Tuesday, February 4, 2020

Contacts.

Love & Hate Relationship gue dengan contact lenses (selanjutnya disebut "contacts" aja biar cepet) dimulai saat 2-3 tahun lalu temen gue ngajak patungan beli clear contacts karena kita punya mata kanan dan kiri yang mines dan silindrisnya beda. Kalau ngga salah kan jadi punya 10-15 pasang gitu ya.. dan tentunya sebagai newbie, habislah itu semua buat belajar pasang.

Emang susah banget sih buat gue yang matanya kecil, hooded, dan bulu matanya jatuh macem gordyn gini. Tapi begitu bisa, rasanya enak banget ngga pake kacamata tapi bisa liat jelas. Berbekal keamatiran gue lagi, setahun kemudian (kira-kira tahun lalu), gue beli lagi untuk gue sendiri. Tetep jarang dipake, tapi beberapa pasang terakhir kayaknya udah mulai biasa. Oh ya, problem gue yang lain adalah mata gue ini tipe mata yang kering, jadi susah nempelnya dan harus sering pakai eyedrops.

Dibanding memasang, gue justru lebih cepat melepas. Kayak ngga pernah ragu untuk cubit, lalu tarik. Tapi gue pernah satu kali kesulitan untuk lepas contacts karena tipsy. Bukan hal yang bisa dibanggakan juga sih, tapi wondering aja, apa ada ya orang selain gue yang menghabiskan waktu 10-15 menit melepas contacts karena tipsy atau drunk? Apa biasanya langsung tidur?

Lalu ada kejadian di Senin minggu lalu yang bikin gue nulis blog post ini.

Saat lagi meeting gue merasa pengen banget pakai contacts (you know, kalau lagi meeting tapi pikiran ke mana-mana biasanya meetingnya boring banget). Eh kebetulan, malamnya langsung ada yang ngegoreng. Ada message muncul di group iMessage dari temen gue yang mau nikah, kurang lebih gini, "Kesel banget gue sama MUA-nya, barusan test makeup gue dipaksa harus pakai soft lens dong! Gue kan ngga bisa! Trus dia nyalahin gue gitu, katanya hare gene ngga bisa pakai soft lens!" disusul emoji-emoji yang mewakilakan kekesalan dia.

Trus sekedar formalitas, gue balas dulu dengan kalimat pembuka, "Ih, baru aja tadi siang gue mikir mau beli contacts!"

Setelah chatting lumayan panjang di group itu, gue berpikir lagi untuk beli contacts. Ngga usah sik, aneh-aneh aja. Selama ini ngga ada problem dengan kacamata. Alasan selanjutnya: Ya males aja spending almost 500K untuk contacts.

DAN TIBALAH SAAT GAJIAN!

Sempat mengucap "Alhamdulillah" dalam hati karena waktu ngunjungin optik langganan di PIM, clear contacts yang sesuai minesnya lagi kosong, tapi kemudian seorang temen ngegoreng lagi, "Lo kan belum pernah pakai soft lens berwarna, coba nih, lagi diskon 30%!" sambil melambaikan satu box contacts. Penasaran, maka gue beli lah contacts berwarna itu. Harganya sekitar Rp100.000-an, jadi 1/5-nya harga clear contacts ya.

Sisters... it took me like 30 minutes to get both in my eyes! Diameternya gede banget dan basically setiap mau masuk terhalang gordyn bulu mata. Padahal Oktober lalu, saat acara outing kantor di Bangkok, fayn-fayn banget pakai clear contacts. Gue bahkan sampe seneng bisa membaca tulisan Thailand yang ngga bisa gue baca itu!

Oh.. hmm.. Apa iya jodohnya pakai clear contacts ya? Mungkin sizenya lebih kecil? Atau memang harga menentukan experience memakai contacts? Here we go, jadi penasaran kan. So, untuk mengurangi penasaran dan for better vision, it's okay lah ya beli contacts! Toh kalo diitung-itung, belinya sekali setahun dan bukan untuk kosmetik. :D

Opini gue tentang pakai contacts berwarna: Ew!
Overall, ngga semua orang cocok pakai contacts, dan gue salah satunya. Gue ngga akan over-analysed kenapa ngga cocoknya, tapi akhirnya gue sangat puas bahwa untuk "mempercantik" mata gue, gue hanya perlu menjepit bulmat dan pakai maskara waterproof yang bagus. Udah, gampang banget.

02/02/2020: First time trying coloured contact lenses.


0 comments:

Post a Comment