Somewhere between rushing and choosing me.
Salah satu tweet yang menyadari gue gimana hidup ini udah beda banget dari zaman gue kecil adalah pertanyaan "Sebelum ada handphone, orang dulu (mungkin refer to Gen Millennials and older) kalau nunggu angkot sambil ngapain ya?" I was like YA NUNGGU AJA GITU DI BALIK POHON POKOKNYA YAKIN KWK S11 BAKAL DATENG.
Trus gue mikir... jir, udah lama juga ya "dulu itu". Dan dulu gue oke-oke aja nunggu angkot di pinggir di jalan (walau jarang naik angkot sih). Tapi sekarang kalo nunggu taksol dari dalem rumah aja udah melototin handphone sambil misuh-misuh EMANG MACET YA KOK JALANNYA LELET BANGET?
Gue juga inget, zaman dulu itu kalau janjian ngeceng jam 5, kita ngga akan bikin agenda sebelumnya supaya bisa kumpul jam 5 di titik yang dijanjiin. Sekarang, sebelum jam 5 itu kita bisa memperkirakan pakai maps apakah kita sempet belok dikit untuk ngedrop laundry dulu, nganterin ortu dulu, ambil nomor antrean untuk dinner via apps, dan lain-lain... lain-lain... yang akibatnya jam 5 pada belum ngumpul.
Selalu ada kesibukan dalam masa "in between" sehingga diam atau menunggu itu ngga normal lagi untuk sebagian orang. Tapi apakah kita sering memprioritaskan kewarasan kita dalam masa "in between" itu?
Reckless, but I just went for it.
Gue inget kata-kata gue waktu gue merasa dukungan untuk menjalankan pekerjaan/role gue itu dikit banget. Justru banyak terjadi hal-hal yang malah mengganggu gue. Siang itu gue bilang ke bos gue, "Tahun 2026, terserah yang lain mau gimana. Gue akan selesaikan bagian gue dengan cara gue."
Tahun 2026 sudah selesai satu quarter, but it seems they normalized the pressure. So I've decided to stop pretending.
Also, New Jersey Devils suck. Next.
Coffee first, everything else later.
Gue mulai bisa memilah-milah mana yang penting untuk sisa kapasitas di otak gue dan kewarasan gue setiap harinya. Ternyata memprioritaskan diri sendiri itu... ENAK!


0 comments:
Post a Comment