Wednesday, June 12, 2019

Oh My.. Where Have All The Emphaty Gone?

WereBothLittlePeople - DeviantArt
MUNGKIN,

orang-orang seumuran gue (early 30s) banyak yang lagi menghadapi fase kehidupan yang challenging secara mental. Mayoritas karirnya sedang menanjak dan itu biasanya merupakan kondisi yang melelahkan di kantor. Mayoritas juga, kebutuhan hidup sedang meningkat karena baru berkeluarga, anak masuk sekolah, mulai mencicil rumah, ataupun kehilangan orang tua yang dulu menjadi tulang punggung keluarga.

Singkatnya, fase kehidupan yang challenging ini disebabkan oleh perubahan yang mulai mengonsumsi banyak energi. Gue pun menghadapinya, tapi sebisa mungkin gue menahan keluhan gue. Karena sekalinya mengeluh.... mungkin gue akan mengeluh terus-terusan.

Sekitar 4 tahun lalu, gue pernah berada dalam perusahaan start-up yang kondisinya ngga baik. Dari antusiasme dan teamwork yang oke punya, mendadak muncul banyak konflik destruktif yang disebabkan satu hal: cashflow. Gue menghabiskan waktu 1 tahun terjebak dalam keluhan berjamaah sampai akhirnya gue menyadari bahwa itu ngga sehat dan gue harus resign. Setelahnya, gue masih suka mengeluh, tapi setahun terakhir ini gue mencoba untuk menahan keluhan gue karena gue sadar gue punya pilihan untuk membuat kondisi lebih baik.

Sayangnya saat setahun ini gue mencoba untuk meredam keluhan gue dan lebih positive thinking, lingkungan gue ngga melakukan hal yang sama. Masalah mereka biasanya 11-12 sama gue (terutama untuk soal pekerjaan). Gue pun berubah dari yang awalnya mencoba untuk helpful dan sekarang menerapkan shut-the-fuck-up attitude.

Oh ya, tau alasan kenapa gue mau mencoba untuk berhenti mengeluh? This might sound cliche.. karena suatu saat gue menemukan ayat di Qur'an yang menganjurkan kita untuk tidak mengeluh.

Back to our main topic, banyak hal yang ngga bisa kita ubah, maka buatlah sikap dan tentukan posisi kita. Sayangnya, mengeluh mungkin lebih enak dan "keren" karena membuka moment untuk menyampaikan pandangan kita atas sesuatu yang kita anggap salah. Secara sadar kita menempatkan posisi kita di pihak yang benar, sebagai yang lebih intelek ngomongin pihak yang tidak-begitu-intelek.

Buat gue, hal kayak gitu udah ngga menarik lagi. Like, sorry, udah terlalu banyak hal yang gue pikirkan dari jam 9 sampai 6 sore 5 hari dalam seminggu. Sisa waktunya mungkin lebih baik gue habiskan untuk binge-watching sebelum tidur atau tawaf di PIM. Lagi pula mengeluh tidak membuat keadaan besok menjadi lebih benar.

One day, baru-baru ini, saking keselnya gue bilang: Lo udah terlalu banyak ngeluh. Buat blog, di sana lo bisa nulis apapun sampai lega.

Dia bilang: Ya tapi gue ngga suka nulis! Emangnya elo!?

Gue balas: Ya jangan berharap gue mau pasang kuping untuk keluhan lo! Apa yang lo hadapi ngga menarik sama sekali.

Trus dia sebel sama gue.

Gue paham kita harus lebih banyak mendengar dan seringnya orang itu curhat slash mengeluh adalah karena pengen didengerin aja (bukan minta pendapat). Tapi kembali lagi dengan kondisi gue di atas, kalau gue sedang mencoba untuk positive thinking dan gue udah cukup capek jalanin rutinitas harian gue, apakah gue ngga boleh terus-terang saat kuping dan otak gue udah menganggap keluhan sebagai toxic?

Ada lagi temen gue yang ngga bisa ngambil keputusan, tapi dia tetep curhat ke gue for the sake of kedengeran keren aja.

Temen: Gue baru dapat tunjangan mobil nih dari kantor, tapi jadi nyetir sendiri dari rumah ke kantor. Kalau naik Gr*b kan disupirin.
Gue: Ya itu plus minus. Itung aja sama cicilan bulanan yang lo tanggung ditambah bensin dan biaya tune-up, lalu bandingin sama nge-grab, lebih hemat mana.
Temen: Ah pakai Gr*b itu juga buang-buang duit. (Males ngitung cunah!)
Gue: Ya udah ambil aja mobilnya.

Setelah dia pulang pergi ngantor pakai mobil...

Temen: Adoooh jauh!! Gue pengen pindah ke kosan deket kantor. Ada apartemen sih kata salesnya murah cuma Rp 3.5 juta per bulan tapi harus bayar setahun sekaligus.
Gue: Duh, gue sih itung-itungan ya kalau alasannya cuma jauh dan bikin capek nyetir. Tapi kalau lo udah ambil mobil lalu akhirnya sewa apartment biar mendekat, apa ngga semakin boros? (Ceritanya mancing untuk berpikir)
Temen: Ya biar hemat waktu juga. Kadang untuk hemat waktu kan ada opportunity costnya.
Gue: (Diem aja, dalam hati bilang, "Oh, emang mau ngasih tau gue aja kalau sekarang gajinya udah cukup buat sewa apartment")

Setelah itu apa obrolannya membaik? Ngga juga, dia malah mengritik gue yang sekarang lebih pilih pakai Gr*b atau G*Jek sambung MRT lalu jalan kaki.

Menghadapi hal kayak gitu ngga satu atau dua kali. Yang akhirnya membuat gue jadi lebih banyak diemnya karena bener-bener males untuk ngasih respon.

Gue ngga bilang gue lagi mau sok bijak dan sederhana, tapi segala keribetan dalam hidup gue rasanya pengen gue kurung aja jadi konsumsi gue sendiri. Dengan begitu, saat gue membuat kesalahan gue ngga malu. Seperti misalnya, gue ngga mau cerita gue punya pacar, jadi saat putus gue ngga harus klarifikasi ke siapapun. Dan please.. sekarang gue lebih respect sama waktu orang lain, maka gue berharap orang lain pun respect dengan waktu gue.

Dan buat gue saat ini, complaining bukan hanya menghabiskan waktu, tapi juga energi. Empati gue terbang begitu aja karena terlalu sering mendengar keluhan orang lain.

Gue berharap fase ini hanya sementara dan gue + mereka semua bisa menemukan balance dalam kondisi yang challenging ini. Supaya suatu hari kalau ngopi-ngopi kita bisa ngomong hal-hal yang lebih konstruktif. Dan supaya kalau WhatsApp-an kita bisa cerita lucu sampai mesem-mesem daripada membahas sesuatu yang bikin alis mengerut.

Someday.

0 comments:

Post a Comment