Sunday, January 19, 2020

Week 3 of #52WeeksofMisswhadevr | Comfort Food.

Waffles + 1 scoop Caramel Biscuit ice cream + maple syrup sore ini di Häagen-Dazs, untuk menutup satu minggu yang penuh uring-uringan, PMS, dan "prestasi" melawan cuaca yang panas. Oh ya, sekaligus ngerayain come-back gue ke dunia potret-memotret lagi.

Sesungguhnya gue ngga paham apa itu comfort food, tapi combo Häagen-Dazs yang super-sweet ini beberapa kali menjadi pelarian saat gue butuh makan manis dengan porsi yang cukup. Memang harganya mungkin ngga beda jauh sama waffles di Pancious dengan porsi yang lebih besar, tapi gue lebih suka makan dengan porsi cukup regardless harganya. Kalau gue pengen agak lebih kenyang dikit, biasanya gue melipir ke Victoria untuk makan chocolate lava cakenya yang lumayan ngenyangin itu (tetep dengan es krim di pinggirnya).

Gue berharap minggu depan akan jauh lebih baik dari minggu ini. Mood gue lebih baik, produktivitas lebih baik, nafsu makan lebih terkendali, pokoknya lebih baik. Gue belum bisa ambil pelajaran apa-apa dari mood gue yang jelek banget di minggu ini, tapi gue tau itu salah. Gue memang PMS, tapi PMS ngga pernah segini buruknya. Gue emang capek kerja, tapi masa mau berbulan-bulan kayak begini? Cuaca Jakarta emang lagi ngga cocok banget sama gue, ya mau digimanain lagi?

Cara satu-satunya adalah gue mengubah sendiri mood gue supaya produktivitas gue naik. Harus punya positive thoughts, mungkin create lingkungan kerja yang lebih cozy supaya inspirasi berdatangan, trus makan siang yang enak.. yang pedes gitu (udah lama ngga makan pedes kayaknya). Mungkin.. kalau gue pengen comfort food setiap hari juga mesti gue jabanin kali ya biar mood lebih okay?

Yuk ah, 'mangat!

Monday, January 13, 2020

Generasi Rebahan.. Literally.


Gue bisa jadi member kehormatan dan abadi kalo ada fans club aktivitas REBAHAN. Nulis ini aja sambil rebahan.

Gue pernah terlibat diskusi dengan orang yang lebih tua, yang men-judge anak-anak sekarang kebanyakan yang pemalas. Jadi dia setuju banget kalau anak-anak sekarang dibilang kaum rebahan. Nah gue sebagai millennial tengah ke arah tua, ngga setuju dengan statement dia. Gue bilang, "Ada alasannya kenapa kita suka rebahan, Mbak."

Gue berangkat dari pengalaman sendiri ya. Gue bekerja udah lebih dari 10 tahun, dan selama 8 tahun di antaranya, gue bekerja dengan bawa-bawa laptop setiap hari. Terkadang, gue bawa dokumen hard copy yang tebel-tebel banget. Sebagai ilustrasi, bawaan gue setiap hari adalah: laptop seberat 2.4 kg di bahu kanan, dan tas 1.5 s/d 2 kg-an di sebelah kiri yang isinya charger laptop, peralatan presentasi, power bank, peralatan lenong, dan kadang-kadang ditambah air mineral botol. Pasti yang auditor dan consultant can relate deh.

Belum lagi perjalanan di Jakarta yang.. widih! Males bahasnya gue.

Sunday, January 12, 2020

Week 2 of #52WeeksofMisswhadevr | Rumah.



Dua bulan terakhir ini, selain gue pusing sendiri soal kerjaan seperti yang diem-diem gue keluhkan pada beberapa blog post terakhir, gue juga pusing urusan rumah dan keluarga. Salah satu adik dan bokap gue bergantian sakit. Pastinya kalau lagi musim sakit gini, kekompakan keluarga diuji. Kalau lagi di kantor atau di luar rumah, pikiran gue pun sering ketinggalan di rumah.

Salah seorang teman gue, bokapnya meninggal satu hari setelah ulang tahun dia di awal tahun ini. Duh, ngga kebayang gimana rasanya berkurang satu sosok yang biasanya menjadi leader di rumah.

Di awal tahun ini juga, teman gue yang juga seorang perantau cerita kalau dulu dia pernah merasa berat hidup jauh dari keluarga. Bertahun-tahun dia mellow dan selalu ingin pulang. Tapi setelah ibu dan bapaknya pisah, dia merasa marah lalu malah bersyukur dia ngga ada di rumah. Merantau, bagi dia, awalnya sekedar kewajiban untuk mencari nafkah, tapi makna merantau sekarang udah jadi "Escaping" dari hal-hal yang ngga dia mau tau dan lihat, yaitu kenyataan ibu dan bapaknya ngga bersama lagi. Dia bilang, dia ngga kepikiran untuk pulang kampung dalam waktu dekat. Termasuk  pas Lebaran tahun ini yang insya Allah tinggal 4 bulan lagi.

Mungkin karena 3 kejadian di atas, sebelum tidur siang tadi gue jadi mikir tentang arti "Rumah". Kalau dalam bahasa Inggris, ada kata "House" yang mewakili rumah secara fisik, dan kata "Home" yang artinya isn't always a nest or a place in which we live. "Home" bisa mengacu pada suatu tempat di mana hati kita berada. "Home", adalah suatu tempat di mana kita selalu ingin pulang.

Saturday, January 11, 2020

If You Are Susah Cari Pacar You Are Not Alone - This Is For You.

Baru selesai catch up dengan blognya Mbak Noni dan blog post terakhirnya berjudul "Susah Cari Pacar" [link]. Hihihi jadi tergelitik ngomongin diri sendiri deh. Kalau kata temen deket gue, gue itu either pacarnya itu-itu mulu atau jombloOoOo mulu. Dari dulu gue paling males sih ngomongin kedekatan gue sama laki-laki, palingan hanya ke beberapa orang aja gue cerita. Ceritanya juga setengah-setengah. Beberapa tahun belakangan ini malah gue nyaris ngga cerita sama sekali.

Memasuki awal tahun ini, ternyata banyak temen gue yang bilang kalau mereka do'ain gue supaya gue nikah tahun ini. Mari kita aminin aja. Mostly mereka ini udah capek sendiri liat gue hidupnya terlalu mandiri, ada yang ngga sabar pengen cerita bareng gue tentang rumah tangga, sampai ada yang pengen hamil bareng. Intinya sih niat mereka do'ain gue baik banget loh. Jadi kalau tahun ini ngga terkabul do'anya, mohon tahun depan gue dikutuk, kali-kali aja dijabah kutukannya.

Tuesday, January 7, 2020

Environmentally Aware (?).


Selamat, Jakarta! Hari ini udah ada berita bahwa Pemprov DKI Jakarta akan melarang penggunaan kantong plastik sekali pakai di pusat perbelanjaan, toko swalayan, dan pasar rakyat, mulai bulan Juli 2020. Akhirnya, Jakarta akan "disetarakan" dengan Bali dan Bogor, yang penduduknya dari dulu udah bilang, "Kita udah dari tahun lalu!"

Gue ngga tau ya ini ada aturan resminya atau ngga. Dan kalaupun ada, wah gue malas bahas deh. Cukup aturan payment system dan financial institution aja yang gue kaji; yang ini gue tinggalin untuk orang lain yang lebih ahli :) Tapi tanpa atau dengan aturan, enforcement untuk mengurangi penggunaan kantong plastik memang diperlukan.... kalau.... mau serius implementasinya.

Gue sendiri udah mencoba untuk Go Green sejak 5 tahunan yang lalu, jadi belakangan ini gue udah mulai nge-review konsistensi dan experience gue dalam menggunakan segala sesuatu yang reusable. Conclusionnya: Ngga mudah untuk menjadikan habit (kebisaan) menjadi sebuah lifestyle. Maksud gue, dengan pakai reusable shopping bags lantas ngga menjadikan gue berani melabel diri sebagai seseorang yang Go Green atau Eco-Friendly.

Monday, January 6, 2020

Bitter Sweet Berries.


Beberapa blog post terakhir emang mellow dan menye-menye sih, tapi dalam keseharian, gue ngga begitu kok. Gue yakin beberapa tahun lalu juga ada masanya gue nulis blog post dalam kondisi yang gemes karena mempertanyakan banyak hal.. kayaknya di sekitar tahun 2014-2015 deh.

Saat ini kondisi pikiran gue memang lagi rusuh banget. Ibarat tali-tali, semua jenis tali berwarna-warni lagi jelimet. Pretty messed up! Maka gue akan mulai runutin masalah satu per satu dan mengurai kekusutan itu. Gue yakin ngga akan ada silver bullet untuk menyelesaikan semua masalah sekaligus - dan gue sangat bersyukur gue masih dalam kondisi sadar, segar, dan sehat untuk mulai menyelesaikan masalahnya satu per satu.

Masalah gue mungkin ngga seberat masalah yang orang lain hadapi, tapi personally cukup membuat gue geregetan. Yang paling berasa adalah demotivasi kerja. Masalah ini membuat gue paham, bahwa ada masalah di kantor akan membuat kehidupan pribadi kita goyang-goyang juga. Clearly karena kita menghabiskan sebagian waktu kita untuk bekerja.

Let's do the math.

Sunday, January 5, 2020

Week 1 of #52WeeksofMisswhadevr | Setahun Penuh Cerita.


Cerita dalam setahun kemarin banyak yang tertulis dalam jurnal. Alasan gue menggunakan jurnal dan bukan blog adalah karena gue mau bebas nulis kata-kata kasar. Iya, generally, tahun 2019 mungkin tahun yang paling challinging, dengan sebagian besar cobaan ternyata carry over ke tahun 2020. *sigh*

Apa yang gue tulis di jurnal biasanya ngga gue baca lagi karena males keinget sama rasa sebelnya. Setelah satu buku penuh, bukunya langsung gue destroyed dan dibuang (tapi foto-fotonya gue copotin untuk dipake lagi heuheuheu). Buat gue, nulis di jurnal itu cuma buat release emosi dan buang waktu dengan cara yang positif, sementara nulis di blog bisa untuk retrospeksi.

Sunday, October 13, 2019

Just one more breath, I beg you please!

Hari ke-6 sakit tapi merasa badan gue sudah jauh lebih enak. Mual udah beberapa hari hilang, tenaga udah refilled 60%-an, nafsu makan udah jauh membaik.. yah semua udah progressing. Yang masih kacau adalah insomnia yang disebabkan badan geli-geli. Tau ngga sih perasaan otot geli dan bawaannya pengen stretching terus? Gue rasa ini akibat ngga ngopi 6 hari sih efek samping dari antibiotik, karena gue perhatiin memang badan gue selalu ngga enak setiap kali minum antibiotik 500 mg tertentu. Mungkin juga karena gue jadi skip olah raga ya.

Lalu dengan otak yang udah lebih bisa mikir dan hati yang udah lebih happy, gue ngebaca apa yang gue tulis di blog post beberapa hari kemarin. Gue resapin semua keluhan gue di situ sambil mencoba evaluasi apakah itu semua ditulis karena gue teler atau emang realita. Walaupun banyak orang kenal gue sebagai orang yang sarkastik dan galak, gue sadar kalau gue punya sisi introvert sampai males ngobrolin urusan pribadi (termasuk personal thoughts). Ngga mau kelihatan lemah? Mungkin. Ngga mau dikasihani? Mungkin. Tapi lebih tepatnya, gue ngga pengen surroundings gue di-judge negatif karena isi curhatan gue.

Gue jadi inget kasus di akhir minggu lalu, seorang Beauty Blogger slash Lifestyle Influencer "salah ngomong" di post instastorynya. Gue sendiri ngga baca langsung post-nya karena gue ngga follow dia (alias ketinggalan berita sebenernya), tapi singkatnya, dengan nada ngenyek dia mengkritik industri kesehatan di Indonesia dan menggunakan kata yang tidak baik untuk dituliskan oleh seorang Influencer. Lalu raging lah sekelompok profesi. Ditambah lagi, hatersnya merasa jadi punya lapak di comment untuk goreng suasana. Melihat kasus itu, gue si ambivert makin berasa penting untuk melindungi profesi gue, kantor gue, dan keluarga gue, dari sifat buruk atau khilaf-khilafnya gue yang rentan keceplosan. Jadi walaupun rasanya pengeeeeen banget ngeluh di blog, maka gue harus mengeluh dengan elegan gitu (you know what I mean). Beda banget dengan keluhan-keluhan zaman kuliah dulu yang bisa bebas gue tulisin di sini.

Saat seseorang mengutarakan kekecewaan, amarah, keluhan, dan sebagainya-sebagainya, somehow kita sering di-judge sebagai individu yang lagi ngga happy atau kesusahan. Orang yang empatinya tinggi, dalam pertemuan selanjutnya dia akan tanya pertanyaan follow-up, "Eh gimana perasaan lo, udah membaik belum?" I do that too, tapi secara personal gue ngga comfortable ditanya seperti itu, karena ada anggapan bahwa apa yang gue rasakan (kekecewaan, amarah, keluhan, dll itu) dialami berlarut-larut.

Balik lagi ke personal thoughts gue....

Gue perlu menerima kalau gue mulai merasa ada ketidaknyamanan, visi yang mulai beda, jenuh, atau apapun namanya you name it or I'll figure it out later lah. Mesti mulai kurang-kurangi denial karena apapun yang gue rasakan itu punya meaning dan mungkin symptoms dari suatu kondisi yang lebih major. Memang bener, gue mesti fokus dulu dengan hal-hal yang lebih important untuk kita bersama, tapi bukan berarti feeling itu di-deny cuz it's a feeling not an invitation sist!

Heyya! I am still that Maya ya kno, the only differences are that I used to be happier and my eyebrows cuz now I let 'em grow out!

Dan sejujurnya, gue belum tau gimana cara overcome semua challenges ini. Gue merasa harus memanage diri gue dalam menyikapi kondisi ini sambil tetap deliver dan ngga menyebabkan damage apapun jadi gue butuh jalan ke luar yang konstruktif. Tapi karena kesehatan nomor satu, mari speedy recovery duluuuuuuu karena outing tinggal 7 hari lagi!!!! Kalau hari Rabu belum pulih sampai 90%, maka gue harus mengundurkan diri nih - hiks! My body needs to cross that line! Rabu ok! Sembuh sembuh sembuh!

Saturday, October 12, 2019

Lelah. Tapi Ya Udah.


Hari Jum'at sekitar 50 menit menuju hari Sabtu. I am writing this post in a bit of daze after suffering through constant nausea and migraines earlier this week that left me missing 4 working days in a row. Rasanya pengen ngeluh, pengen cerita, tapi ngga tau mulai darimana dan sama siapa. Dari tadi WhatsApp-an sama temen-temen tapi cuma bisa haha-hihi. Kadang gue ngebanyol paling heboh pula! Padahal ya.. gue poker face aja gitu di atas tempat tidur.

Udah 4 hari berturut-turut di atas tempat tidur karena sakit. Udah ngga tau juga mau ngapain. Dari kemarin udah nyambi kerja sedikit, tapi ketiduran lagi kalau abis minum obat. Tapi kalau ditanya sakit apa, cuma bisa jawab muntah-muntah ngga jelas. Katanya hasil check darah, gue kena bakteri dan infeksi pencernaan. Tapi kata internist, intinya kecapekan.

Bener juga. Gue terlalu lelah sampai kalau pengen cerita, ngga tau mulai darimana. Akhirnya mending ngopi-ngopi aja ngomongin hal lain yang bisa bikin mood gue lebih baik. Karena kalau capeknya diturutin, nanti ceritanya bisa ke mana-mana. Bener sih kata orang, kalau ada masalah jangan dipendam. But what is also true, ngga semua hal bisa diceritain.

Katanya, begitulah orang Gemini. Two-faced. Tapi kalau saat ini gue berhadapan dengan seseorang, mungkin ini yang akan gue ceritain.

Thursday, September 12, 2019

Suntikan Tapros Season 2, #5.


Waktu pagi ini keluar dari ruangan dokter, gue sumringah banget sampai diselametin sama Ibu Kasir. "Terakhir ya, Mbak...?"

Gue jawab, "Insya Allah, Bu. Sampai ketemu 6 bulan lagi ya."

Iyes, suntikan kelima ini suntikan terakhir. Entah udah cukup atau belum dan apakah gue akan clean selamanya only God knows ya sisturrrrrr tapiiiii finally gue bisa nabung! Dan another good news, cicilan mobil pun kayaknya bulan ini terakhir deh. Yes!!! Mari rencanain liburan panjang!! :D