Monday, November 14, 2022

Antigen Test Melulu!

Sejak Desember 2021, kegiatan gue berangsur pulih. Udah business trip lagi, udah banyak meeting di luar, beberapa kali udah kerja dari kantor, dan udah ngeceng juga ke mall bareng temen-temen. Dari sok-sok-an ketat prokes, sampai akhirnya yawdalaya bund~

Bener kata orang, once lo kena covid dan sembuh, threshold keparnoan lo akan berubah. Apalagi dalam kasus gue, gue positive covid 2 hari setelah pulang business trip tanpa tau ketularan siapa dan (alhamdulillah) tanpa menularkan siapa-siapa juga. Isoman di rumah sangat berhasil walau ngerepotin banyak orang ya bund ya. Dan abis itu yang ada dipikiran gue cuma dua: Pertama, "Kalo apes ya apes aja.", dan yang kedua, "Oh keren juga ya rumah gue ramah isoman." :P

Akibat pemikiran yang pertama, pasca kena covid ini, gue jadi lebih less-parnoan. Tapi kalau soal prokes, gue tetep kenceng, termasuk urusan antigen sebelum dan sesudah ketemu dengan banyak orang. Soalnya nyokap gue belum kena covid, dan kalo bisa JANGAN *ketok-ketok talenan*. Nah, berhubung gue ngga suka banget proses antigen yang dicucuk itu, biar prosesnya menjadi lebih fun, kaset antigennya gue hias-hias aja.


Ternyata, ngehias kaset antigen itu bisa bikin gue lebih "nerima" kalau harus sering-sering cucuk akibat sering ke luar kota. Gue ngebayangin nanti setelah pandemi selesai dan udahan parnonya, koleksi antigen ini jadi kenang-kenangan pandemi hahah.. PADAHAL JOROK YA KAN BEKAS INGUS! Tapi beneran deh, ngehias kaset antigen tuh therapeutic, sistur!! Dari awalnya ambisius mikir hiasan/gambar yang beda-beda sampai akhirnya selow aja ngehias sekepikirannya. Trus karena udah bosen, kemarin gue beli kutex-kutex murah biar sekali-sekali ada yang ijo gitu warna kasetnya.

Jadi bener ya, manusia itu beradaptasi..... hmm...

Sunday, August 14, 2022

June - July - August.


Banyak cerita selama 2,5 bulan ngga ada tulisan di sini. Pastinya cerita tentang naik-turun suasana hati, perubahan-perubahan positive dan negative, stress dan destress.. yah, basically sesuatu yang bakal bikin kita menghela nafas dan bilang “That’s life!”.

Untuk men-summary-kan beberapa kegilaan (yang mungkin bakalan B aja kalau gue baca lagi 5 tahun berikutnya): Gue (akhirnya) kena covid setelah balik dari business trip di Juni lalu; Garmin Vivomove HR gue sudah selesai masa baktinya setelah 4 tahun (alias is-ded) di saat gue lagi ngga ada budget beli gadget baru; menggabungkan romantic relationship dengan business relationship BUKAN keahlian gue; mulai best-friend-an dengan Bali karena itu destinasi liburan yang paling masuk akal di saat pandemi gini lalu pekerjaan pun banyak yang mengharuskan gue bolak/ik ke sana; apa lagi ya?

Ngomong-ngomong yah, di usia mid-30s ini banyak hal yang lucu. They said, usia 30-an itu kalo lo single rasanya sama aja kayak 20-an, tapi with money. Bener sih, KALO punya duit! Lucunya, gue dan temen gue ada yang sepakat kalau cicilan jadi salah satu faktor yang bikin hidup ini seru. Seru aja untuk ngeluhin kekagetan bayar tagihan credit card atau ngeluh bokek sebelum bulan berakhir. Asli deh, pas ada temen yang galau mau KPR atau beli rumah secara cash, gue sama temen gue langsung nyembur, “Anjay cash!! Ya KPR lah, bakal seru abis hidup lo!” xD

Thursday, June 2, 2022

Seseg.

Pakai "G", karena rasa sesek yang ngegelayutin gue berminggu-minggu ini bukan rasa sakit yang bikin gue kesulitan nafas.

Seseg, perasaan overwhelmed yang udah terjadi dalam periode lama dan terus-menerus ngehimpit gue dari segala arah dan bikin gue capek.

Selama ada matahari, gue seperti berada dalam ilusi kesempitan walau lagi berdiri di ruang besar yang terbuka. Kemudian malam datang, lalu gue tidur dan seketika dunia gue menjadi luas.. seluas kasur gue yang sebenernya ngga gede-gede amat.

Kondisi tersebut berlangsung selama berminggu-minggu.

Gue, si "tukang berbagi penderitaan", biasanya cerita soal ini ke orang terdekat gue sebagai validasi bahwa apa yang lagi gue alami juga pernah mereka alami. Biasanya ceritanya berujung adu nasib, tapi kali ini ada yang respon ke gue, "Kayaknya rutinitas hidup lo berubah, tapi tanpa lo sadari lo ngga suka dengan rutinitas itu."

Dheg! Mungkin juga ya. Sejak kapan gue yang rada egois ini suka lupa sama diri gue sendiri?

Wednesday, May 18, 2022

Hot Weather, You ARE SO Difficult....

I have a very big issue with hot weather and going outside during the day, but even though my eczema and rashes are back as hell (week 3 or 4 is it?) I went outside to meet colleagues and a friend. Nowadays I probably took longer to get ready to go out. I feel lame.

Then comes the rain afternoon and night until my backyard is flooded. I love rain, did I mention that?

I have a million things to do but sadly I'm finding it's more difficult than usual to focus and forgetting things easily. Things are hard enough so yes, I'm procrastinating. I know it's going to bite me in the ass, but all I can think about is another million things such as: reading a fiction, going to a mall to *NGADEM*, staring another online course, new ways to do my makeup, running, how sick-and-tired I am of the damn hot weather, my aching back, saving up, visiting Singapore, being lazy, organizing, watching a film, a new blog design, and it doesn't really end there really..

And as always, I'm thinking about how nice vintage camera is...


Bye for now. I'm starving.

Friday, May 6, 2022

Burberry London, Miloff!


Sejak SMA atau awal kuliah, gue pengen banget punya signature scent untuk menggantikan wangi Zwitsal yang ngga mungkin gue pake pas masuk ke dunia kerja. Sasaran gue adalah "wangi yang wanita karir". Pokoknya ngga tau gimana wanginya, cuma gue pengen begitu dan ngga pengen pasaran.

Ngga kerasa sekarang gue hampir 10 tahun bareng Burberry London. Mau beli parfum apapun, gue selalu punya London. Meskipun sebagian banyak review bilang parfum ini ngga cocok dipakai daily, gue mah cuek beybe. Gue sudah sampai pada tahap ditanyain kenapa sama orang lain kalau pakai parfum berbeda. Padahal mah kadang-kadang pengen variasi aja.

Entah perasaan gue aja atau memang bener, tapi kayaknya gue belum ketemu temen-temen gue yang pakai London juga. Kalau Burberry Body, pernah kecium pas ketemu temen di kawinan.. tapi yang London ini, entah emang ngga ada, atau emang wanginya beneran ngeblend dengan badan sehingga keluarin scent dan aura beda saat dipakai orang lain.

Saturday, March 19, 2022

Catatan Akhir "Sekolah".


Di tahun pertama pandemi, gue sempet struggling dengan cashflow bulanan karena selama 8 bulan gue ngga bisa nabung sama sekali. Lalu pas pendapatan dianggap pulih di awal tahun 2021, ternyata overall pendapatan gue malah turun karena ada pengalihan jumlah tunjangan (huahahah jadi apanya toh yang pulih?). Cuma saat itu gue merasa ngga bisa misuh-misuh soal uang.. mood sehari-hari aja udah runyam, gimana kalau ditambah lagi urusan rekening?

Makanya suatu hari menjelang di akhir tahun 2021, gue lumayan surprised ternyata ada dana yang cukup untuk gue investasiin. Jangan tanya dari mana, gue pun heran dalam kondisi pandemi ini kok ternyata malah ada rezekinya. Jumlahnya cukup menggoda untuk ditukar dengan instrumen investasi atau untuk sekedar mendongkrak angka di tabungan, tapi ngga tau kenapa, saat itu gue lagi pengeeeen banget belajar.

Sempet kepikiran, apa ini saatnya gue untuk coba apply S3 ya?
Tapi mau di mana? Jurusan apa?

Gue sempet 1 tahunan nyoba bikin proposal disertasi, tapi ngga sanggup bikin perumusan masalah. Eh, tapi kan sekarang karena WFH jadi banyak waktu di rumah untuk belajar dan research, ya ngga?

Gelisah terus bawaannya....

Thursday, November 25, 2021

Tetangga Kok Gitu?


Semogaaaa pandemi memang udah mau berakhir sehingga cerita-cerita gue tentang WFH, pandemi, dan stay at home di blog ini bisa selesai. Tapi sebelum itu semua berakhir, gue mau cerita tentang situasi WFH 8-9 bulan terakhir ini. Artinya ini situasi yang mewarnai sebagian besar tahun 2021 gue.

Akhirnya ada yang beli rumah kosong di samping rumah gue. Di awal 90-an, saat gue pindah ke cluster ini (gue masih kecil tentunya), semua rumah dan tanah adalah milik keluarga besar nyokap gue. Singkatnya, waktu terus berjalan sampai akhirnya tanah kosong dibeli orang lain dan sodara-sodara mulai ninggalin cluster ini (termasuk rumah nenek-kakek gue yang akhirnya kosong karena meninggal). Perpindahan itu membuat keluarga gue dan keluarga kakaknya nyokap sebagai 2 keluarga "terlama" yang tinggal di cluster ini. Sisanya adalah orang baru yang alhamdulillah-nya bisa rukun-rukun sama kita.

Di awal tahun ini, ada kabar rumah kosong di sebelah dibeli seseorang. Awalnya gue ngga tau siapa yang beli, sampai suatu hari skylight rumah gue ditutup pakai tripleks oleh tetangga yang lagi ngerombak rumah sebelah ini (kejadian ini kira-kira di bulan Mei). FYI, rumah gue itu lantai paling atas emang dirancang untuk pakai cahaya matahari ketika siang, jadi gue udah bertahun-tahun tinggal di rumah itu dengan cahaya matahari dari skylight. So, saat skylight itu ditutup tanpa izin, lantai atas langsung gelap. Gue inget banget, gue lagi pakai eyeshadow pas tiba-tiba sekitar gue menggelap dan ada suara gedor-gedor orang pasang paku.

Gue protes dong. Siang itu gue akhirnya ketemu sama bapak calon penghuni rumah sebelah. Rupanya orangnya rada nyeleneh/nyentrik, tipe bapak-bapak mid-40s yang g4uL, mengaku dipanggil sama temen-temennya dengan sebutan "King!" Dalam pembicaraan tersebut, gue bilang, kalau sejak pandemi gue full WFH. Jadi pembangunan sebelah akan menimbulkan banyak masalah di keseharian gue. Apalagi dia menyentuh bangunan gue dengan tutup skylight rumah gue tanpa izin!

Saturday, November 13, 2021

Bye Blogger, Bye Blogging (?).

(Image source: Freepik)

Semakin ke sini, gue semakin ngerasa Google mau bunuh Blogger [LINK]. Dimulai dari modifikasi CMS yang sama sekali ngga memudahkan kita gue untuk customise theme/template, kemudian dipersulit untuk membalas comment yang masuk. Meskipun dari dulu Blogspot (nama lama dari Blogger) emang ngga secanggih/sedinamis Wordpress ataupun Tumblr, tapi buat bloggers lama kayak gue ini, Blogger emang punya tempat tersendiri di hati, soalnya nama situsnya mewakili aktivitas yang kita lakukan: BLOGGING.

Yah, atau emang sebatas "sayang" aja karena udah sekian lama Blogger jadi rumah untuk curhat.

Jadi gue pun nyadar bahwa sedikit demi sedikit, kapabilitas Blogger berkurang untuk mendukung apa yang gue mau. Jumlah template yang tersedia mulai berkurang tapi yang ada pun so-so banget dan ngga mudah untuk customisation. Tampilan thread comment jelek banget dan susah untuk reply comment walaupun udah login ke account sendiri.

Akuisisi untuk kanibalisasi emang bukan hal yang baru untuk digitalisasi. Tapi seharusnya pemain dunia digital juga ngerti kalau ngga semua orang bisa jadi Vlogger (what the irony, Vlogger kan mengandung kata BLOG.. it's Video BLOGger), ngga semua orang bisa jadi YouTuber, atau mainan TikTok.

Ngga semua orang "ada" di dunia digital ini untuk dapet adsense atau likes dari orang banyak. Beberapa orang menggunakan media sederhana ini untuk menyalurkan apa yang ada di kepalanya dan retrospeksi. Kayak gue. Tapi mungkin jenis orang itu semakin sedikit. So.... business is business.

Kalau ada yang mampir dan perasaannya lagi kesel dan mellow kayak gue ini (karena alasan apapun), hi-halo!!! Semoga bisa kembali ceria lagi di weekend ini dan dijauhin dari hal-hal negatif. The world keeps changing, so we have to be ready for it!

Sunday, October 10, 2021

Apa Kabar Kopi?

Hampir 20 bulan sejak ngopi “beneran” terakhir kalinya :’D
Tentu aja selama ini ngga ada deep talks di coffee shop. I’m hoping my friends are still here when this pandemic calms down enough.


Hari terakhir di Istanbul, gue duduk di sebuah coffee shop sambil journaling dan bikin banyak plan yang pastinya gagal kehantam pandemi. Sampai di Jakarta, gue bener-bener tutup keinginan untuk nongkrong di coffee shop sekalipun udah buka. Jadi sejak Maret 2020, hot cappuccino dan piccolo akhirnya jadi es kopi susu yang gampang dibikin sendiri di rumah atau delivery order. (PS: Gue bukan penggemar kopi Sbux, jadi kopi-kopi mereka ngga masuk ke dalam kategori “decent coffee”).

Hari Rabu siang kemarin, gue colongan ikut nyokap dan bibi gue mampir ke PIM. Karena kangen banget suasana kerja di coffee shop, gue pergi sambil bawa laptop dong muehehehe! Sampai sana, gue ngintip dulu ke Toby’s Estate, eh ternyata cukup sepi dan ada tempat duduk bertiga yang lumayan mojok dari bangku-meja orang lain. Akhirnya kita masuk dan brunch di sana.

Surprisingly, jeda 1.5 tahun ngga bikin gue merasa kopi bikinan coffee shop / artisan jadi “lebih mewah” dari eskopsus yang sehari-hari gue konsumsi selama pandemi ini. Gue bersyukur dan menghargai moment se-jam-an duduk di sana sambil brunch, tapi ternyata jauh dari “decent coffee” ngga bikin gue gila juga. Ngga bikin gue terharu sambil mau menikmati seruput demi seruput gitu loh. I appreciate the moment and opportunity but, apparently coffee is just a coffee for me.

Cuma gue seneng banget siang itu milih Toby’s Estate. Kalau aja gue pilih coffee shop lain, mungkin sekarang gue lagi cari-cari alasan untuk nyoba ngopi lagi karena ngga bakal puas. Coffee shop yang  piccolonya enak di mall (terutama di kompleksnya PIM) itu ngga banyak lah. Jadi kalau mau hajar sekalian, Toby’s Estate udah pasti tempat yang tepat. Jadi kangen Singapur.

Jadi gue kembali nyetok eskopsus di freezer untuk dicairin dan diminum setiap pagi (lagi) di rumah.
Ngga ada perasaan harus buru-buru kembali ke coffee shop.
Kopi bisa nunggu.
Kerja di coffee shop bisa nanti.
Yang penting melewati pandemi dengan sehat dulu.

Holding on to hope.

Saturday, October 9, 2021

Ng-Upgrade iPad.

Sebagian dari blog post ini gue tulis tanggal 10 September 2021, tapi ngga sempet dilanjutin. Sekarang selesain yuk biar ngga mandeg di draft aja. Pengen ngobrolin tentang iPad yang ngga disangka-sangka ternyata malah jadi most viewed/read blog post di blog ini semenjak gue nulis tentang Goojodoq [link].


Walaupun gue termasuk orang yang selalu punya iPad (sejak iPad pertama gue yaitu 3rd gen), gue bukan orang yang techno banget sampai pengen ngomongin gadget/teknologi di blog ini. Tapi perlu jujur juga sih, kalau ada temen yang belum punya iPad/tablet, pasti gue hasut-hasut untuk punya. Apalagi sejak gue optimalin penggunaannya (bukan hanya untuk media consumption), gue makin gencar rekomendasiin iPad atau tablet lainnya supaya orang lain juga bisa ngerasain asiknya paperless atau nonton Netflix sambil boboan di layar yang lebih gede.