Sunday, August 18, 2019

Now I Like To Knee People.


Waktu kerjaan gue lagi sellooooow banget sekitar 5-6 tahun lalu, gue seneng banget olah raga lari untuk ngisi waktu. Dimulai dari iseng-iseng sama seorang temen, akhirnya gue tamat race half-marathon dan pernah 2 kali long run sampai marathon distance. Rasanya dulu waktu senggang gue bisa banyaaaaak banget. Jarak dari rumah ke kantor pun cuma 3 km-an, jadi seminggu bisa 2-3 kali  jogging pulang ke rumah.

Trigger pertama gue berhenti lari adalah karena gue, ehm, mundur perlahan dari circle utama yang saat itu topik pembicaraannya mulai ngga sehat. Sempat lari sendiri atau berdua beberapa kali sebelum akhirnya gue totally berhenti karena mulai kecapekan kerja. I know, banyak yang bilang jangan pakai "kerja" sebagai alasan ngga olah raga, tapi buat gue, itu realita loh. So.. setelah beberapa tahun bener-bener berhenti olah raga, gue sempat mikir, mau mulai olah raga apa ya? Ada temennya ngga ya? Apa sign up membership gym lagi?

Saturday, July 27, 2019

Coffee Talk: Comfort Zone / In Control / Grounded.


Minggu lalu di jam istirahat kantor gue ketemu sama temen yang kerja sebagai HR di kantor lain buat ngupi cantik. Dia bener-bener HR garis keras, meanwhile gue banyak banget skip-nya. Karena tau perbedaan itulah jadi kalau kami ketemu, paling males bahas urusan per-HR-an atau per-kantor-an soalnya tau banget perbedaan sudut pandangnya.

Siang itu, singkatnya, kami lumayan seru ngomongin tentang manusia yang senang comfort zone gara-gara awalnya gue cerita, "Gue lagi sering kerja remote.. tiap pagi nyari coffee shop yang ngga jauh dari kantor buat kerja sendiri biar fokus." Akhirnya untuk pertama kali dalam setahun terakhir kami ngomongin tentang per-kantor-an lagi karena pengalaman paling deket dengan comfort zone adalah soal kantor/pekerjaan yang kita jalani selama 1/3 hari. FYI, kantor gue kayak lagi ngalamin growth spurt gitu dan gue belum nyaman bekerja di satu physical environment yang rame. Entah kenapa gue merasa sesek.

Tapi apakah tempat yang sepi dan hening merupakan comfort zone gue? Ngga. Buat gue, comfort zone itu psychological state yang vague banget. Untuk dapat dikatakan berada di dalam comfort zone, gue harus merasa familiar dan in control. Jadi gue lebih merasa nyaman karena gue merasa "in control", bukan karena gue berada dalam "comfort zone".

Sunday, July 14, 2019

EMPTIES: Leave-in Conditioner / Heat Protectant.

Dua-tiga minggu belakangan sebenernya males buka blog karena Photobucket bikin ulah lagi. Setelah beberapa bulan lalu mendadak me-watermark-i foto-foto karena baru menerapkan quota, eh sekarang kita dipaksa untuk upgrade ke pro.. kalau ngga, tetap ada watermarknya! Jadi gue mesti pelan-pelan download foto-foto dari Photobucket trus re-upload ke Blogger. Pe-er yang cukup banyak soalnya gue udah hosting di sana sejak 2015-2016 untuk hampir semua foto di blog ini.

Cuma gue udah lama banget pengen review leave-in conditioner. Jadi pas siang ini tube terakhir udah kosong, gue sebel-sebel excited gitu.. duh mesti ngga pas gini timingnya sama mood gue! Tapi karena udah pengen banget, ya udah lah ya, quick photo aja dan segera nulis di sini biar tube-tubenya bisa dibuangin. Salah satu alasan kenapa gue pengen banget review, adalah karena 2 brand ini merupakan leave-in conditioner yang gue pakai selama 1 tahun terakhir. Paaaas banget setahun, dengan pemakaian masing-masing 6 bulan!

Sunday, July 7, 2019

Endometriosis, Tapros, dan Masa Ovulasi.


Bertahun-tahun gue mengandalkan mobile apps period calendar untuk persiapan mens, termasuk untuk reminder kapan gue mesti beli sanitary napkins dan ngerencanain liburan. Iya, gue emang serius kalau planning liburan. Kalau mens pas ke Singapore masih oke deh, tapi kalau ke Bali?

Pada saat endometriosis gue muncul lagi dan sekarang lagi suntik Tapros Season 2, jadwal mens lumayan susah ditebak. Akurasi calendar yang tadinya di atas 90% makin lama makin menurun. Sekarang malah nyaris ngga ada gunanya. Tapi karena gue merasa penting untuk tau kapan gue ovulating, gue mulai mencoba rajin menyandingi ovutest dengan jadwal di mobile apps (iye, meski lagi ngga akurat tetep gue tengok appsnya). Pertama kali gue belajar pakai ovutest sekitar 2 tahun lalu dan yang gue inget cuma bau hangseurnya aja.

Tuesday, July 2, 2019

LaLaLa Toenails!

Di blog post ini [link] gue sempat cerita tentang jempol kaki kanan dan sampingnya (telunjuk kaki?) gue yang ngegaprok pad pas lagi muay thai. Waktu itu berdarah ngga karuan, tapi gue merasa akan baik-baik aja karena rajin gue rawat dengan oil, ointment, dan gue jaga kebersihannya (dibersihin alcohol dan selalu plester rapi tapi masih bisa nafas). Sebelum lebaran akhirnya gue sempat pedicure karena yakin kondisi kukunya masih melekat kuat. Saat itu dari sisi nail matrixnya (lengkungan putih di pangkal kuku) mulai terasa dan terlihat ada kuku baru yang tumbuh, tapi ketebalannya lebih tipis daripada existing nail. Gue ngga overthink karena mungkin itu yang terjadi kalau nailbed kita injured kali ya.

Terakhir kondisi toenailsnya sebenernya hanya ungu sedikit kayak bando/sabit gitu, ngga sampai jadi goth-toe (sesungguhnya kalau goth-toe ya anggap aja kutexan). Ternyata itu darah kering, istilah medisnya subungual hematoma. Since kuku jempol adalah favorit gue, sebenernya gue sedih dan sebel sih, tapi selama kuku masih nempel, gue cuma perlu tunggu subungual hematomanya naik ke atas sampai tiba waktu digunting. Beres kan?

AND NOW THE IMPORTANT UPDATE!

Saturday, June 29, 2019

Suntikan Tapros Season 2, #4.


Tapros sekecil itu tapi lumayan sakit juga pas disuntikin. Dua puluh empat jam setelahnya, biasanya bahu gue pegel-pegel sampai harus dibalut ice pack, terutama pas sebelum tidur.. kalau ngga, ngga merem-merem karena ngga nyaman. Harganya dua juta kembalian dua lembar Rp20.000,- plus koin-koin (mayan bisa buat bayar kalau ke RS-nya pakai bluebird pulang-pergi). Kebanyakan asuransi ngga tanggung Tapros, tapi katanya bisa pakai BPJS asalkan rujukannya bener sejak awal.

Setelah suntikan ketiga Bulan Maret lalu, gue lumayan kewalahan karena efeknya berasa banget ke fisik, antara lain insom+fatigue, rambut rontok, dan kuku jadi butek banget. Antara suntikan ketiga dan keempat ini gue sempat 2x mens. Mens pertama, jedanya cuma 3 minggu teng, jadi kata suster itu bukan mens dan belum perlu suntik lagi (idealnya di atas 24 hari). Trus gue sempat ngga mens 50 harian sampai puasa kemarin hampir full. Eh ngga taunya dapet dan hari ke-4 (dimana harus suntik) jatuh pas lebaran. Jadi ngga bisa bikin appointment ke dokter deh.

Wednesday, June 12, 2019

Dementor, IS THAT YOU?

WereBothLittlePeople - DeviantArt
MUNGKIN,

orang-orang seumuran gue (early 30s) banyak yang lagi menghadapi fase kehidupan yang challenging secara mental. Mayoritas karirnya sedang menanjak dan itu biasanya merupakan kondisi yang melelahkan di kantor. Mayoritas juga, kebutuhan hidup sedang meningkat karena baru berkeluarga, anak masuk sekolah, mulai mencicil rumah, ataupun kehilangan orang tua yang dulu menjadi tulang punggung keluarga.

Singkatnya, fase kehidupan yang challenging ini disebabkan oleh perubahan yang mulai mengonsumsi banyak energi. Gue pun menghadapinya, tapi sebisa mungkin gue menahan keluhan gue. Karena sekalinya mengeluh.... mungkin gue akan mengeluh terus-terusan.

Sunday, June 2, 2019

A Menspad First-Timer!


Udah cukup lama gue denger dan tau soal Menspad atau reusable cloth sanitary napkins, tapi ngga pernah nyangka gue akan nyoba pakai Menspad ini. Gue cukup skeptis gimana bahan kain bisa membuat kondisi di antara selangkangan itu cukup nyaman, karena kan dia tebal ya, sementara gue biasanya pakai pads yang setipis mungkin. Laluuuu... apakah memang bener anti bocor?

I did a lot of research. Gue baca-bacain blog orang, review-review di marketplace, sampai cari YouTube yang isinya ngereview Menspad. Kesimpulannya: Ngga akan tau jawabannya kalau ngga coba sendiri. Maka gue beli Menspad langsung beberapa unit (ternyata udah bonus insertsnya) dengan jumlah yang cukup untuk dipakai selama mens.

Sunday, May 26, 2019

Adulting My Finances.


Tiga tahun belakangan, kondisi keuangan gue butut banget karena beberapa hal, salah satunya adalah cara pengelolaan yang urakan. Contoh urakan yang paling konkret itu ada 2, yaitu pemecahan tabungan di banyak rekening dan penggunaan credit card sebagai instrumen pembayaraan saat gue *ehm* belanja online. Akibatnya, gue pusing sendiri saat gue melakukan rekonsiliasi keuangan saat dibutuhkan.

Sebenarnya mudah untuk mengenali tanda-tanda keuangan kita lagi butut gini. Pertama, kita merasa overwhelmed dengan banyaknya kartu (atau mobile apps banking/payment) dan ngga hafal balance masing-masing, dan yang kedua, tentu saja ngerasa bokek mulu. Tiga tahun terakhir ini gue sempat beberapa kali ngerasain kedua hal itu secara bergantian ataupun bersamaan. Akhirnya sekarang gue mencoba untuk lebih rapi dan disiplin.

Dan ternyata ngga gampang untuk ngebenahin pengelolaan keuangan. Bukan dengan sekali coba trus langsung berhasil dan selesai masalah-masalah gue. Sampai sekarang, udah jalan setengah tahun tapi gue belum menemukan cara yang pas. Satu solusi yang cukup membantu adalah mengurangi jumlah rekening yang dikelola. Jadi sejak akhir tahun lalu, ada 2 rekening utama yang gue kelola: rekening tabungan dan rekening jajan. Keduanya pakai bank yang berbeda, tapi masing-masing punya mobile apps yang OK banget biar ngelolanya dan monitornya mudah.

Saturday, May 18, 2019

Five Things.


On my mind...

1. Sometimes things just happen the right way and you say "yes". I need to get back to saying "yes". I would thrust out my "no" too quickly and closed myself off to opportunities. But now, I feel safe enough to be open again.

2. I think back to the way it felt to go to the office without laptop in my bag in the morning with a cup of coffee in my hand, fresh air deep in my lungs. Hmm...

3. I think that big changes actually can be easy when we're making them in order to be in alignment with our higher selves.

4. Why did they have to remake Disney Movies?

5. The last thing I've been pondering today is how much we talk about the differences in thinking between women and men. How one always thinks they know slightly more or slightly better than the other. How sometimes the best thing to do is to just keep quiet. I mean, you say your piece, and then let yourself move on.