Pages

Suntikan Tapros Season 2, #3.

Friday, March 22, 2019


AKHIRNYA MENS!

Sepanjang sejarah suntik Tapros, baru sekali gue "menopause" sampai 78 hari! Dalam tujuh puluh delapan hari itu, gue sempet beberapa hari berturut-turut pakai sanitary napkins karena takut tiba-tiba dapet, termasuk pas 4 hari di Singapore bulan lalu. Sempat beberapa kali flek, tapi ngga pernah lanjut ke mens. Bahkan satu-dua minggu terakhir gue mulai uring-uringan karena pengen mens.

Sampai akhirnya pas waktu gue mau uji coba MRT 4 hari lalu.. eh gue dapet! Untung masih di fX jadi gue sempat ke drug store untuk beli sanitary napkins dulu. Gue seneng gitu akhirnya dapet lagi. Jadi sakit perut tapi kali ini happy!

Problems with Our Brick & Mortar Stores.

Sunday, February 24, 2019


Gue lupa udah pernah misuh-misuh tentang Sales Promotion atau Cashier Person di blog ini atau belum, tapi topik ini adalah sesuatu yang selalu pengen gue angkat ke dalam diskusi. Artinya, gue udah mengalami kejadian ini berkali-kali dan sama sekali ngga berkesan di hati gue.

Singkatnya, sebagian besar Sales Promotion dan Cashier Person di Indonesia (atau khususnya Jakarta) ngga punya public speaking yang bagus. Asumsi gue, public speaking bukan bagian dari kurikulum training mereka, jadi mereka semua keep repeating the all shits alias mengemukakan sesuatu dengan pertanyaan yang sifatnya negatif.

Rasanya sih gue pernah cerita di blog ini saat gue emosi sama SPG salah satu brand makeup di Department Store saat dia -secara tidak langsung- ngatain gue jerawatan melalui pertanyaannya. Kejadiannya saat weekend (hari-hari di mana gue ke luar rumah tanpa makeup) pas gue mau beli lipstick. Setelah lama kakaratak lipstik, begitu udah gue ketemu shade lipstick yang gue mau, SPG-nya nanya ke gue, "Foundationnya ngga sekalian, Kak, untuk tutupin jerawatnya?"

Tentang Perempuan.

Tuesday, February 5, 2019


Suatu hari di minggu lalu, gue sempet merenung #jie. Udah lama banget gue ngga nerima atau dengar celaan tentang gue - at least di depan gue sendiri. Gue lebih banyak mendengar pujian tentang gue, baik pujian untuk fisik ataupun achievement (pendidikan dan karir).

Dan terus terang, sebagai orang yang pernah dibully + ranking 5 dari bawah + nyaris ngga pernah terima pujian selama masa sekolah dulu, sekarang gue masih belajar menyikapi pujian. Gue ngga pernah punya insecurity terhadap fisik dan flaws gue, tapi gue ngga pernah melihat diri gue sebagai perempuan yang ideal. Dalam berbagai hal, gue cuma beruntung.

Growing My Hair (Long) Again.

Sunday, January 27, 2019

Gue lagi punya misi memanjangkan rambut. Iya, masih dalam rangka bosen seperti tulisan gue kemarin. Awalnya gue lupa kapan terakhir kali gue punya rambut panjang menyentuh tali bra, tapi setelah gue ngubek-ngubek tulisan di blog ini, akhirnya ketahuan dari posting ini [link] kalau gue potong pendek sejak 2010. Enak juga ya konsisten nulis di blog :D

Mungkin selama 9 tahun ini gue sempat sekali nyoba untuk panjangin rambut (karena sempat ada foto gue punya rambut yang melewati bahu). Tapi pastinya gagal karena akhirnya rambut gue pendek bob lagi. Udah setahun belakangan ini gue kangen dikuncir, dikepang, bahkan kangen banget di-bun/updo. Per hari ini, kayaknya udah 5 bulan ngga potong rambut - dan mungkin 1.5 tahun sejak terakhir kali gue potong bob nungging. Sekarang rambut gue udah hampir menyamai rambut di Agustus 2010 ini.



I'm Breaking Up with Black.

Saturday, January 26, 2019

Akhir-akhir ini tema keluhan gue selalu sama: Bosan alias Bosen.
/bo·sen/
adjective

Bukan, bukan bosen hidup.


Bosen kerja di ruangan kantor... akhirnya gue sering banget kerja remote untuk mendongkrak mood.
Bosen sama makanan kantor... yah, kalau kerja remote jadi bisa pesan makan siang sekalian. Tapi bikin bokek!
Bosen sama social media... akhirnya spending time di Instagram turun dari 2 jam ke 1 jam dalam kurun waktu 2 minggu. Di minggu ini, daily averagenya cuma 21 jam HEHEHE!!!!!

I Got My Ears Pierced..

Saturday, January 19, 2019

.. NINE years ago!

Gara-gara #10yearchallenge, gue jadi ngubek-ngubek foto lama. Akhirnya ketemu foto ini, tapi pas dilihat EXIF-nya ternyata (baru) 9 tahun lalu. Jadi tahun 2010 gue baru tindik untuk pertama kalinya. I was 22.5 years old back then.


Bukannya kalau perempuan biasanya ditindik sejak bayi ya? Nah, ortu gue membiarkan gue memilih sendiri sih. Dan seinget gue, gue ngga pernah minta pakai anting pas gue kecil. Bukan karena takut ditindik, tapi gue merasa pakai anting itu biasa aja.

Gue ngga pakai banyak pertimbangan waktu nindik, soalnya decisionnya dibuat hanya dalam hitungan menit. Gue inget banget waktu itu lagi jalan sendirian abis beli DVD bajakan di Poinsquare, pas lewat toko emas ada print-an "Terima tindik". Gue langsung melipir untuk tanya harga dan metodenya. Mereka jelasin metodenya sambil tunjukin beberapa anting yang jadi paketannya. Pas ketemu anting yang cocok dan uang di kantong celana pendek gue cukup.. I said, "Let's do it!" Kalau ngga salah harganya Rp 60.000 each udah termasuk anting temporary yang ladybug itu.

Why Some People Delight in Being Killjoys?

Thursday, January 17, 2019


Ini cerita di balik keseruan #10yearchallenge yang masih berlangsung di social media seperti Instagram dan Twitter.

Tiga hari lalu ada temen yang nanya tentang grammar di Instastorynya dengan me-mention gue dan beberapa teman lainnya: "Sebenernya grammar-wise ini #10yearchallenge atau #10yearschallenge?" Waktu itu gue belum latah nge-post, tapi di Twitter udah lumayan trending world-wide dan gue udah tau tentang ini karena nge-scroll hashtag tersebut.

Gue nemu satu post di Twitter (dari bule dalam Bahasa Inggris), bahwa challenge ini adalah #10yearchallenge (tanpa 'S') karena basically yang ikutan silahkan post foto sambil discovering perubahannya dari tahun 2009, baik fisik, mental, kehidupan, karir, achievement, dan lain-lain.  Disebut "challenge" karena ngga banyak orang yang mau melihat 10 tahun ke belakang. Walaupun seiring bergulirnya waktu, yang join #10yearchallenge kebanyakan posting foto throwback aja tanpa deskripsiin perubahan dalam kehidupannya.

Singapore: Why I Keep Coming Back.

Saturday, January 12, 2019


Gue berharap punya penjelasan yang bagus kenapa gue sering pergi ke Singapore. Atau punya cerita yang bagus setiap kali gue pulang dari short gateway ke sana. Atau punya jawaban ketika ada orang nanya, "Gimana awalnya lo bisa sering ke sana? Lo pengen banget ya tinggal di sana? Apa sih yang bikin lo suka Singapore padahal di sana mahal-mahal banget?" (FYI, pertama kali gue ke sana pas masih usia 3 tahunan, tapi sejak tahun 2009 gue ke sana 1-3 kali tiap tahun).

Truth is....

Setiap kali gue ke sana, gue ngga punya plan mau ngapain aja. Gue ngga punya wishlist mengenai barang-barang yang gue pengen beli. Gue ngga bawa baju-baju lucu untuk foto.

Suntikan Tapros Season 2, #2.

Friday, January 11, 2019


Suntikan Tapros kedua jauh lebih cepat dari perkiraan karena gue berpatokan sama siklus saat Season 1. Dulu, setiap habis suntik Tapros, gue skip mens 1 bulan, jadi siklus gue bisa sampai 40-60 hari. Ternyata, yang kemarin sekitar 22 hari gue udah mens lagi. Berhubung 22 hari termasuk siklus normal, akhirnya gue suntik Tapros lagi 3 Januari kemarin. Marhaban Yaa Bokek di Awal Tahun.

Singkatnya, gue suntik jadi 2x dalam kurun waktu sebulan karena lusa baru genap sebulan sejak suntik pertama. Gimana rasanya? Gotta say Season 2 ini jauh berbeda dari Season 1.

Kalau waktu Season 1, side effectnya lebih ke hot flushes dan perasaan jijik sama environment/benda yang -menurut gue- kotor. Gue bisa tuh senewen tiap dapet duit kotor, masuk toilet kotor, ih pokoknya kotor-kotor dikit gue senewen deh (kecuali sama kamar gue yang kaya kapal pecah hoho!). Sekarang, side effectnya lebih ke physical.

Oh My Wax!

Saturday, January 5, 2019


Sekian tahun waxing, gue masih aja kesakitan setiap kali wax kaki, terutama daerah tulang kering. Di situ bulu kaki gue subur banget sampai-sampai setiap mau ditarik gue mesti tahan nafas. Triknya biar ngga terlalu sakit adalah wax sebelum tumbuhnya rata, jadi jamaahnya ngga terlalu banyak pas ditarik.

Dari pengalaman gue, ada 3 hal yang paling nyebelin saat waxing. Pertama, wax-nya masih panas saat dibalur ke kulit kita. Gue selalu protes kalau kepanasan, karena abis itu kulit gue akan merah-merah untuk beberapa saat. Mbak-nya pasti ngerti dan biasanya langsung campur sedikit air atau diaduk beberapa kali lagi sampai gue merasa lebih nyaman.

Yang kedua, ini nyebelin banget sih.. yaitu kalau nariknya ngga tuntas alias gagal tarik 100% (misalnya cuma 1/2 atau 3/4 kain) lalu dia tarik lagi untuk tuntasin. Kesel banget karena bikin sakitnya double-double. Lagi-lagi gue protes kalau tariknya ngga tuntas gini.. kalau memang ngga bisa tarik jauh ya jangan dipaksain bikin area wax yang besar gitu loh.
 
template design by Studio Mommy (© copyright 2015)