Thursday, June 4, 2020

Pretty Little Liars - Revisited.

WAH WAH! Setelah check statistik visitor blog ini, lucu juga begitu ngeh ternyata banyak new visitors yang mampir karena blog post tentang Pretty Little Liars yang gue tulis 12 tahun lalu [Link]! *Hai hai!!* Gue masih inget waktu gue beli novelnya lalu terus beli buku-buku selanjutnya (ngga bisa berhenti baca) karena ceritanya bikin penasaran. Selain itu storylinenya dikemas secara menarik banget oleh Sara Shepard. Gue begitu kecantol dengan ceritanya karena gue tau Sara Shepard udah ngerencanain ending yang bagus banget atas semua misteri di PLL.

Pretty Little Liars ini memenuhi ekspektasi dan sesuai dengan taste gue. Gue suka dengan cerita-cerita yang berbau skandar dan misteri. Settingan di suburb juga lebih mudah dibayangin daripada setting di New York yang jadi background Gossip Girl. Satu-dua tahun setelah gue ngikutin seri PLL, mulai deh PLL dan angkat ke serial TV dan CD bajakannya beredar di Jakarta.

Buat gue, serial TV-nya ngga semenarik baca bukunya. Akhirnya gue cuma bertahan nonton 1 season. Ada yang istimewa dari tulisan Sara Shepard dan packaging bukunya yang membuat gue punya imajinasi yang lengkap atas PLL. Menurut gue, serial TV-nya ngga bisa mengejar kesenangan gue membaca bukunya.

Trus 10 tahun berjalan, tiba-tiba muncul PLL versi Indonesia.

Monday, June 1, 2020

De Nyu Normel.


Gue tuh denger kata The New Normal udah eneg banget. Dari judul webinar, nama program, jargon-jargon, sampe apa juga ditambahin nyu normel - nyu normelan. Lama-lama font juga diganti namanya jadi Times New Normal hih! #kzl

Tapi pada dasarnya dari dulu gue selalu sebel kalau ada hal-hal yang diglorifikasi berlebihan (jadi emang guenya aja sik yang bermasalah). Apalagi kalau akhirnya sampai berubah maknanya. Hmm bukannya gue ngga percaya bahwa kita akan (dan harus) melakukan kenormalan-kenormalan baru akibat C-19 ya, tapi menurut gue, new normal atau tidak yang jelas kita harus beradaptasi dengan hal-hal yang dapat melindungi kita dan sekitar kita. So, karena capek dengan istilah new normal, gue akhirnya mencoba mencari istilah lain (tentunya dengan bantuan Google lah) dan menemukan kata:
Unprecedented
/ˌənˈpresədən(t)əd/
adjective: never done or known before.
HOAHAHOAHOAHOA kayaknya istilah ini bisa dijadikan pengganti dari new normal. Why? Ya biar GUE ngga emosi aja kalau capek denger new normal.

Friday, May 22, 2020

Week Kesekian Hingga Kesekian of #52WeeksofMisswhadevr | 2020 dan Sisa Perjalanan Sampai Masa Depan.

Gue pernah diselimuti ketakutan karena gue ngga tau siapa yang akan dipanggil Tuhan terlebih dahulu: Bapak, Ibu, gue, atau adik-adik gue. Gue membayangkan gimana hidup gue tanpa mereka dan ujung-ujungnya selalu berharap kita bisa tua bareng-bareng. Tanggal 5 Mei ini pertanyaan itu terjawab, Bapak dipanggil duluan menghadap Allah SWT.

Sepertinya udah cita-cita Bapak untuk punya usia yang sama dengan Rasul (SAW). Saat masih sehat, beberapa kali beliau bilang, "Kalau umur Rasul (SAW) 63 tahun, palingan berapa sih umur kita? Kalau bisa lebih sisanya ya bonus." Ternyata beliau dipanggil di usia yang sama dengan Rasul (SAW). Kalau dipanggilnya bulan depan, usianya udah beda lagi. Beliau berpulang karena sakit selama 5-6 bulan terakhir dan ngga sempat menjalankan test diagnosa yang proper karena prosesnya keburu dibatasi pandemi COVID-19. Di sela-sela ikhtiar yang dilakukan Ibu dan sakit yang ditahan Bapak, entah gimana gue merasa ini memang jalan Allah. Tanggal 5 Mei saat Bapak dipanggil, gue ikhlas. Tapi ada perasaan lain yang ngga bisa gue definisikan hingga sekarang.

Mungkin emang begitu anak perempuan pertama. Dari luar kelihatan strong tapi di dalemnya ancur. Mungkin kita terbiasa kuat sehingga dalam kondisi gini kita harus jadi figure yang menguatkan dan sebisa mungkin no drama. Mungkin, gue lebih seneng Bapak dipanggil sama Allah, ketimbang dia harus terus kesakitan dan kita ngga bisa mendiagnosa dan mengobati. Mungkin saat itu Allah bilang, "Cukup, sampai di sini ya." Yang jelas, sesayang apapun gue sama Bapak, Allah lebih sayang dengan beliau.

Saturday, May 2, 2020

Apa yang Berubah Gara-Gara Gue #dirumahaja dan WFH?


Gue mulai WFH tanggal 13 Maret, beberapa hari lebih awal dari ketetapan official kantor karena gue harus self-quarantine setelah liburan. Jujur awalnya gue mikir gue akan balik ke kantor 14 hari kemudian, tapi ternyata kondisinya begitu parah dan kita semua ngga akan balik ke kantor setidaknya sampai setelah Idul Fitri. Estimasi gue pribadi, sejujurnya gue berharap kita bisa selama mungkin #dirumahaja kalau kondisinya belum mendekati 100% pulih.

Buat kantor gue yang udah terbiasa kerja secara remote, full WFH ternyata tetap membawa dampak. Sesuatu yang eye opening, bahwa kita ngga sepinter itu menjalankan service remotely. Contoh singkatnya, gue kesulitan lihat distribusi load pekerjaan ke seluruh staff. Lalu awalnya ada tendency yang sibuk makin sibuk banget, tapi yang biasa aja juga mungkin ada. Managerial level pun yang biasanya "aci" kalau delegasi kerjaan, mulai berstrategi untuk delegasi ke staff yang udah dipercaya bisa kerja cepat dan benar (karena berkali-kali review dan revisi secara remote itu emang bikin capek!). But it's okay.. menurut gue ini lumrah karena butuh waktu sampai ketemu cara yang pas untuk menyamakan karakteristik pekerjaan dengan kondisi baru ini. Kalau ngga ada masalah, gue jadi bingung, you pada kerja ngga or you comin' from the futtah?? :P

Tapi, gue optimis kita akan bisa belajar banyak dari kondisi ini. Ngga usah nilai orang lain kayak gimana, nilai aja diri kita sendiri. Oh ternyata gue ngga percayaan ya orangnya? Oh ternyata komunikasi gue dalam pekerjaan ternyata seburuk itu ya? Banyak lah yang bisa kita evaluasi! We'll find a way. Eventually.

Now forget about work and let's talking about meeself!

Friday, May 1, 2020

How Is It May ALREADY?


Barusan setelah buka puasa, gue buka journal dan, loh loh kok ternyata udah 1 Mei? Waktunya bikin monthly cover! Padahal sejak beberapa waktu lalu, pekerjaan gue banyak berhubungan dengan tanggal & scheduling (dan kemarin gajian juga), tapi segitu ngga awarenya kalau sekarang bulan baru. Fix sih ini gara-gara #dirumahaja dan WFH yang 12 hari lagi genap 2 bulan.

Trus gimana nih Blogger, udah masuk Mei, masih ngga bisa upload foto dari Safari dan bikin imagenya full width? Sebagai perfectionist gue kan gatel kalau lihat foto ngambang di blog ini. *Dan males juga ngodingin buat rata kanan-kiri*

*Anjaeeeee akhirnya gue koding tu image*

Thursday, April 9, 2020

Password Fatigue.


Udah beberapa waktu belakangan ini gue mengalami password fatigue. Ada moment di mana gue gagal login ke laptop, padahal laptop kan gue pake setiap hari. Gue juga sempet gagal masukin PIN GoMobile CIMB sampai keblokir, dan gue bener-bener ngga ada ide ini apa yang salah ya? Usernamenya kah? Passwordnya? PIN-nya kah? PIN GoMobile atau PIN Kartu? (PS: Gue emang pakai Face ID, tapi kalau lagi maskeran kan ngga dikenal sama Face ID-nya ya, bok!).

Gue mau evaluasi diri apa yang salah juga kayaknya kok lebay.. Soalnya gue tau penyebabnya: Gue selalu pakai username, password, dan PIN beda-beda untuk setiap login credentials, bahkan kartu ATM. Kalau mau songong nih, gue tuh punya information security awareness yang tinggi, sampai repot sendiri.

Kalau PIN kartu ATM, masalahnya beda. Gue ngga mungkin lupa karena udah pada kerekam di muscle memory. Paling ketuker-tuker aja. Ujungnya sih sama aja rasa jengkelnya.

Face ID dan Touch ID yang ada di smartphone itu memang solusi. Tapi bikin kita manja dan sering lupa.
Kayaknya ini saatnya download password manager deh! Udah ada beberapa social media dan aplikasi yang ngga pernah gue buka karena gue males recover username dan passwordnya, seperti Facebook, LinkedIn, dan Skype.

PS: Belum bisa upload foto dari Safari nih. Apa harus coba upload dari Google Chrome?
PS(1): Ternyata bisa dari Google Chrome, tapi sizenya ngga bisa diubah. Pffft!

Sunday, April 5, 2020

Week 14 of #52WeeksofMisswhadevr | Typing in New Blogger's CMS ~ ini gimana deh bingungin banget!

Blogger ini abis ngubah CMS, lalu gue keder, lyke.. TUMBEN GUE BISA KEDER #sombong
Tapi ini gimana deh, ngga bisa ngupload foto!!
Ngga ada opsi untuk justified paragraph!
Trus ngapain itu ada undo-redo ada di toolbar? Pan ndak penting....
Hhhh... formatting lewat HTML deh!

Minggu ini kayaknya gue udah bisa adjusting dengan WFH. Masih berasa capek, tapi ngga bingung dan pusing sendiri lagi. Mungkin karena setiap hari gue ganti posisi meja-kursi jadi berasa ganti pemandangan. Hari ini gue memutuskan untuk beli meja kerja baru lewat mobile applicationnya IKEA, soalnya ngga jelas bakal WFH sampai kapan dan gue ngerasa meja gue lama-lama bikin pegel juga karena ngga ergonomis. Insya Allah hari Selasa mejanya sampai dan mari kita main tukang-tukangan ngerakit meja! Mayanlah daripada liat laptop mulu.. :P

Saturday, March 28, 2020

Week 13 of #52WeeksofMisswhadevr | I "Went" to Plaza Senayan.


This quarantine is taking its toll on me T_T

Sekarang hari ke-16 untuk gue, dan sejak 2 hari lalu, gejala stress udah muncul. Biasanya kalau gue udah stress level banget, gue kedatengan tamu.. eczema. Jaraaang banget eczema muncul, kecuali kalau stress gini. Biasanya muncul di pergelangan tangan di balik jam, tapi kali ini muncul di 3 tempat lain: jari telunjuk kiri, punggung tangan kanan, dan betis kaki kanan. Semuanya sekecil bentol  dan warnanya cuma pink but, yeah, it's eczema. ECZEMA DI TEMPAT BARU AAAARGHHH!!

Gue ngga tau apa yang bikin gue stress: apakah WFH yang menyebabkan cara bekerja semakin intense atau kenyataan 2 minggu lebih ngga menghirup udara mall?!

Friday, March 27, 2020

Istanbul - Bagian Dua.

Gue sering menekankan ke banyak orang kalau gue ngga pandai untuk bikin review liburan atau pun rekomendasiin tempat belanja dan makan karena pada dasarnya, setiap solo trip selalu gue jalanin secara mindful. Mungkin ngga banyak tempat yang gue kunjungi, tapi yang jelas gue bener-bener menikmati kemana pun gue berjalan. Untuk trip ke Istanbul lalu, gue memang punya tujuan khusus, yaitu berhenti sejenak dari kehidupan sehari-hari yang fast pace. Gue berangkat tanpa itinerary, tanpa ekspektasi, dan cuma berbekal harapan kalau selama seminggu ke depan gue bisa mengistirahatkan otak gue yang udah kelamaan mendidih.

Seminggu emang pendek, tapi saat beli tiket somehow gue punya feeling suatu saat nanti gue akan ke Istanbul lagi. Jadi lebih baik jangan dibikin puas.

Setiap hari, gue ngabisin waktu 4 jam di coffee shop untuk duduk dan journaling. Aktivitas itu emang bisa (dan biasa) gue kerjain di Jakarta, tapi rasanya beda pada saat lo ngga diganggu.

Dalam blog post ini, gue mau tulisin beberapa informasi jadi Para First-Timers nanti tau what to expect saat bikin rencana pergi ke Istanbul.


Saturday, March 21, 2020

Week 12 of #52WeeksofMisswhadevr | Self-Quarantine.


Fair enough kalau postingan week ke-12 ditulis sekarang karena besok pun ngga ada apa-apa. Hari ini, gue udah 9 hari self-quarantine sejak pulang dari overseas untuk mencegah penularan COVID-19 just in case gue seorang carrier. Awalnya ini policy dari kantor gue yang minta gue ngga ke kantor dulu sebelum 14 hari terhitung tanggal pulang gue, tapi per Senin kemarin, kantor pun resmi menerapkan social distancing dan WFH.

Gue cukup early catch-up dengan issue Coronavirus ini. Gue inget di minggu-minggu pertama 2020, gue baru aja sampai kantor, pas di lift gue buka Flipboard, beritanya penuh dengan Wuhan Virus. Gue juga sempet ngobrolin ini sama Nadya yang awal February pergi ke Jepang. Waktu itu pembicaraan kita, "Kesel ngga sih, mau liburan malah ada virus gini?"

Mendekati keberangkatan gue ke Istanbul di awal Maret, gue masih termasuk orang yang berpikiran kalau ada langkah preventif yang bisa gue terapin supaya ngga ketularan. Jujur, waktu itu gue juga rada ignorance, karena selama February adik gue yang di Sydney pergi di Spanyol, dan adik gue yang satunya juga pergi ke Belanda selama Maret-April. Kata gue dalam hati, "Hidup ngga usah berhenti lah.."