Saturday, October 24, 2020

Week 43 of #52WeeksofMisswhadevr | Capek Fisik vs Capek Mental.

Image by Aka-Shiro (DeviantArt)

Ngga perlu didebat lagi yang namanya capek mental itu LEBIH CAPEK daripada capek fisik. Seumur hidup gue udah naik gunung (baru 3x tapi boleh lah sombong), lari marathon, padding muay thai sampe goblo, operasi 4x, terbang Jakarta-Makassar-Jakarta lalu disambung perjalanan darat ke Bandung lanjut Cianjur semua dalam 3 hari...... dan rasanya masih lebih ringan daripada 9 hari ngurusin 3 kasus kontak erat dengan positive/infected COVID-19 DAN satu event.

*Bodo amat yang baca paragraf di atas ini ngerti apa ngga, yang penting maksud gue begitu*

Untungnya hari ini gue udah ngerencanain swap lunch dengan temen baik gue. Jadi gue excited banget pesenin dia lunch untuk dideliver ke rumahnya, sambil nebak-nebak dia beliin gue lunch apa hari ini. Hal sederhana gini langsung naikin mood gue untuk bisa berberes kamar dan rearrange working station gue *LAGI!!!* di sore ini. Tapi ngga bisa dibohongin.... capeknya 2 minggu terakhir itu masih bersisa di bahu dan lambung gue (alias maag ngga kelar-kelar).

Minggu ini masih bersisa besok.. Rencananya mau jalan pagi ke Sbux deket rumah sama nyokap. Apapun yang terjadi besok..... please yang baik-baik aja yah.... Ngga sanggup ditambah drama lagi. :(

Kamu, stay healthy and stay safe ya!

Sunday, October 18, 2020

Week 42 of #52WeeksofMisswhadevr | Anjayy.. Sertifikat untuk Happy!

Journal minggu ini dimulai dengan laporan sport jantung of the week dulu:

Setelah beberapa kali (2 atau 3 kali) dealing dengan emergency response penyebaran COVID-19 di sekitar working premise (padahal mostly udah WFH), pertengahan minggu ini gue bener-bener berhadapan dengan risiko penyebaran di ring 2 kantor begitu gue denger kabar kemungkinan keluarga inti salah satu karyawan telah terinfeksi. Mendadak di kepala gue langsung ada cabang-cabang: yang ini harus digituin, yang gitu harus diginiin, dan seterusnya. Dalam waktu yang cukup singkat, gue harus cari tempat swab yang deket dengan rumah karyawan tersebut. Alhamdulillah, dalam hari yang sama keluarga inti karyawan bisa diswab dan besok paginya keluar hasilnya: Si Karyawan negative, tapi ibu dan istrinya positive.

Tantangan belum sampai di situ, hey juragan.. While Team GA menangani kondisi lapangan, gue bertugas untuk memberikan pendampingan, setidaknya sampai dengan ibunya mendapatkan RS. Dan oh man, bener banget yang dibilang berita-berita: kalau kita menunggu untuk mendapatkan fasilitas pemerintah, maka kita balapan sama "waktu". Gue aja yang merasa cukup knowledgeable mengenai emergency response ngerasa pusing banget saat melakukan pendampingan.. Gimana Si Karyawan yang knowledgenya ngga cukup untuk menghadapi ini - pluuuus yang infected adalah ibunya yang sudah lansia dan istrinya (dalam kondisi salah satu anaknya masih menyusui).

Secara keseluruhan, butuh waktu sekitar 60 JAM sejak pertama kali gue mendengar laporan keluhan hingga ibunya berhasil masuk ambulans menuju rumah sakit rujukan. Setelah pandemi ini selesai, gue mungkin bisa nulis blog post khusus tentang gimana peningnya Task Force COVID-19 di perusahaan selama pandemi ini. Takut, sedih....... restlesss......... Makanya gue ngga muluk-muluk, kalau ada yang ngga percaya bahwa COVID-19 sangat berisiko, coba deh jadi bagian Task Force atau jadi "Anak HR" dulu...

Di luar high light di atas, sebenernya ada hal yang menarik banget di minggu ini..... yaitu gue enroll kelas di Coursera tentang "The Science of Well-Being". Gue merasa bego-bego-lucu gitu kenapa enroll kelas gini, terlebih diajakinnya sama temen gue yang lagi sama-sama meratapi nasib ini (basically kami saling membantu untuk mentertawai nasib).


Friday, October 16, 2020

Pengen Cuti!

Kangen banget pengen mudik!! Walaupun di bulan ini katanya Indo-Sing mau buka border dengan segala persyaratan, tetep aja menurut gue belum saatnya untuk maksa jalan-jalan. Anything could happen kan.. dan kebayang gimana nyeselnya kalau *amit-amit* infected gara-gara keteledoran yang kita bikin sendiri.

Tapi boleh dong, yang tadinya kangen jadi KANGEN BANGET gara-gara kebayang gimana enaknya jalan-jalan kabur dari kerjaan di lorong gini, sambil nenteng es kopi, pake loose dress atau celana pendek..? Heuheueheuh.. Singapur emang pliket banget sih, tapi karena gue anak kota yang masih terus berharap Jakarta bisa nyaman untuk jalan kaki, gue jadi seneng banget nikmatin hari-hari di kota tanpa di-cat call dan napakin kaki di medan yang datar.

Satu lagi, dengan kondisi penyebaran COVID-19 di Indo yang ngga udah-udah ini, mungkin jalan satu-satunya gue bisa ketemu ade gue yang di Aussie adalah di Sing. And I weally weally looking forward that day.


Sunday, October 11, 2020

Week 41 of #52WeeksofMisswhadevr | PSSB, PSBB Transisi, Trus PSBB Lagi, Eh PSBB Transisi Again.


Minggu ini gado-gado banget *yak elah opening standar* Banyak banget kejadian yang mentrigger emosi gue sampai gue pengen banget marah, sampai kejadian-kejadian kecil yang bikin gue seneng. Hecticnya juga ngga karuan karena banyak deadline di berbagai urusan. Oh ya, belum lagi mencerna reaksi orang-orang terhadap UU yang itu tuh! Pokoknya ribet deh minggu ini sampai males mikirinnya.

Tapi weekend ini mood gue enak banget setelah selesai buang-buangin make up expired dan baju-baju belel!!

Beberapa make up yang gue buang isinya masih setengah kemasan. Karena harusnya memang habis kalau setiap hari dipakai. Tapi karena gue #dirumahaja selama ini, jadinya banyak peralatan lenong yang ngga terpakai. Trus baju-baju yang gue keluarin adalah baju tidur gue karena gue baru aja beli piyama banyak!!!! Tau lah cewe kan seneng banget beli baju dan gue ngga beli baju selama 7-8 bulan tu rasanya HEY W PENGEN BELANJA WOEEEE ~ jadilah beli piyama langsung beberapa pasang sekaligus.

Hari ini gue juga seneng karena bisa nyolong waktu ke PIM, walaupun sampai sana hareudang minta ampun. Yang awalnya pengen agak lama di sana, akhirnya buru-buru juga karena kok pusing kegerahan.

Sore tadi gue baru nyadar kalau hari ini adalah hari terakhir PSBB dan ternyata ngga diperpanjang lagi alias kita gerak ke PSBB Transisi lagi yah? Yah, gue sih no comment kalau soal itu ya :P

Stay safe, stay healthy, everyone!

Saturday, October 3, 2020

Week 40 of #52WeeksofMisswhadevr | Back to Ngajar(?).

Pertanyaan: Kenapa Para Biudi Enchusies suka foto sambil tarik satu matanya kayak begini?


Sejak weekend minggu lalu, gue seperti balik lagi ke dunia akademisi alias ngajar lagi. Walaupun beberapa kali ngasih training, rasanya "ngajar" itu beda banget dengan "nge-training". Apalagi faktanya... gue ngajar dosen :|

Okay wait, sebenarnya sifatnya sharing session, but still.. gue berharap mengubah yang tadinya ngga tau menjadi tau.. :P

So, ini setup dan suasana meja gue yang gue sebut di blog post yang ini [LINK]. Sehari-hari, gue bisa pilih opsi mau kerja di meja ini atau di co-working space yang gue bikin di lantai bawah. Kalau ada kebutuhan video call ataupun training, gue lebih pilih di meja pribadi gue ini, karena lebih kondusif dan *ehem* backgroundnya bisa diatur yang cakep ngga peduli lantainya berantakan.

Back to ngajar,
..... jadi kangen ngajar di kelas..... :| 

Sunday, September 27, 2020

Week 39 of #52WeeksofMisswhadevr | Untuk Direnungkan.


Sooo.. sakit-sakitnya adnexis udah hilang. Hari Rabu pagi gue udah lepas painkillernya biar ngga kelamaan teler, jadinya Kamis gue bisa balik kerja. Daaaan yang penting Sabtu kemarin gue bisa bayar utang ngajar yang seharusnya dikerjain minggu lalu.

Udah beberapa waktu terakhir ini gue uring-uringan pengen cuti, tapi karena alesan ba-bi-bu, gue selalu mengurung niat itu. Sampai akhirnya badan gue sendiri yang menegur. Selalu kayak gitu. Tahun 2018, gue sakit di November. Tahun lalu, sakit di Oktober. Dan tahun ini, well....

Thursday, September 24, 2020

Alternate Universe.

Pernah ada temen nanya kayak gini:

Temen (T): May, kira-kira di AU lo jadi apa?
Maya (M): Australi? Waktu itu jalan-jalan doang.
T: Alternate Universe, an-djeingg! (bener-bener ngasih penekanan pada d dan ei-nya sampai idhgam saat masuk ke ng).
M: Hoo.. HOOOO! *baru ngeh* Alternate Universe!


By the way, di salah satu novel porno gue yang pernah beredar di akhir 2000-an, gue merangkum curhatan orang-orang di sekitar gue lalu menulis story line tentang apa jadinya kalau konflik-konflik mereka ngga pernah resolved. Termasuk apa jadinya kalau kesalahan yang mereka lakukan ujungnya semakin ngga bener. Meskipun inspired by curhatan huehuehue dan bahkan gue meminjam satu-dua potek nama mereka (karena males cari nama tokoh), tapi itu bukan bayangan gue atas sebuah alternate universe karena basically gue menciptakan karakter baru.

Sampai sekarang, kalau gue lagi mengkhayal (di luar urusan novel), gue suka kebawa-bawa pertanyaan temen gue dan respon gue yang rada bodoh itu.. walaupun gue ngga mengkhayal tentang Alternate Universe juga sih, tapi tapi tapi.. pernah muncul pertanyaan singkat di kepala gue: Kalau memang Alternate Universe itu ada, gue ketemu siapa ya?

Buat kamu-kamu yang suka mengkhayal dan mimpiin Alternate Universe, nih gue kasih support dengan mencuplik quotenya Mbak Sheila Burke:
There are no accidental meetings between souls.

Udah ya, jangan what-if - what-if lagi.. Because maybe it always you. :)

Wednesday, September 23, 2020

Week 38 of #52WeeksofMisswhadevr | Adnexitis.

Adnexitis? Apa tuh? Jangan sedih dulu kalau ngga tau! Waktu Hari Sabtu lalu gue didiagnosa terserang adnexitis, gue juga baru pertama kali mendengar nama infeksinya. Pas gue Google.. ealah, search resultnya kok langsung ngga ngenakin kayak gini ya?


Gue ngga meminta banyak penjelasan dari ObGyn tentang apa adnexitis, karena saat memutuskan ke dokter, fokus gue adalah untuk mendapatkan jawaban apakah sumber sakit perut gue ini ruptured cyst (lagi) atau bukan. Gue mulai sakit dari hari Kamis sore dan merasa semakin parah di Jum’at sampai harus cancel acara webinar di Sabtunya. Gue bener-bener ngga siap mental kalau ternyata ada ruptured cyst dan harus operasi lagi. Setelah diperiksa dengan USG yang cukup lama, ternyata diagnosanya adalah adnexitis ini, alias infeksi/radang pada daerah sekitar saluran tuba.

Sambil nunggu bayaran, gue cari tau tentang adnexitis dan kenapa rasa sakitnya aneh banget. Gue belum pernah ngalamin sakit perut yang rasanya campuran antara panas, radang, dan memar. Ngga ada rasa sakit seperti ditusuk kayak dulu (dan alhamdulillah kista gue baik-baik aja, cuma nambah 1 cm dalam 3 bulan) jadi sakitnya itu nyebar mulai dari 2 jari di bawah pusar sampai semua daerah pelvic. Gue sempet nanya ke temen-temen, apakah ini gejala UTI, tapi kok ngga sakit kalau pipis.

Yah, begitulah rasa adnexitis yang gue alami. Gue dikasih antibiotik dan painkiller Tramadol yang bikin gue teler dan high sejak Sabtu sampai sekarang. Alhamdulillah rasa sakitnya udah jauh berkurang, cuma gue masih ngga nyaman duduk dalam waktu lama dan masih suka teler. Hari ini niatnya terakhir kali minum Tramadol karena sisa sakitnya udah bisa ditoleransi.

Aneh ya, bolak-balik sakit mulu di daerah sana? Bagusnya gue agak jarang overthink, jadi penelitian-penelitian yang bilang endometriosis dan adnexitis itu berhubungan ke infertilitas belum masuk-masuk amat ke kepala gue. One thing for sure, gue mulai mengenal pattern kalau bagian kewanitaan gue emang rentan banget terserang saat gue stress.

Sabar ya, one day I'm gonna fix everything!

PS: Label/tag Endometriosis Journey udah dibetulin. Semoga ngga banyak blog post nyasar lagi ke sana.

Thursday, September 17, 2020

Akhirnya Marathon “Lucifer”.


Udah cukup lama temen-temen gue rekomendasiin TV series Lucifer, tapi gue ngga maju-maju nontonnya sejak ada di FOX. Padahal gue orang yang mudah fascinated dengan crime scene / murder investigation TV show. Pas dulu gue nonton di FOX, selaluuuu aja pas episode/bagian yang ngga serunya. Entahlah dia lagi jadi devil, lagi marah-marah sama tokoh yang diduga ibunya, daaaan segala episode yang membuat serial ini menjadi rumit.

Akhirnya bulan lalu mereka release season 5, biar nontonnya nyambung, gue mulai dari season 1 episode 1 di Netflix. LAH KOK TERNYATA LAWAK?!

Makin banyak episode yang ditonton, gue malah meninggalkan bagian murder investigationnya dan nikmatin hal lainnya yang ditawarin TV series ini, yaitu comedy, celestial story, dan love storynya. Comedynya udah jelas dari scriptnya (RP accent plus vocabnya yang sophisticated itu nilai plus banget untuk yang mau memperlancar Bahasa Inggris). Celestial storynya ngasih gue pandangan lain soal sejarah dan hubungan makhluk celestial berdasarkan agama, budaya, dan bahasa lain (terlepas banyak juga improvisasinya). Dan love storynya.... #uhuk bikin gemez.

Hal lainnya yang bikin gue ngikutin serial ini adalah kemampuan penulis cerita untuk menggambarkan cara berpikir manusia dan emosinya yang rumit. Ada masa di mana manusia bingung soal perasaan yang dialami. Episode per episode, perasaan itu diidentifikasi dan dikupas (dibantu dengan tokoh seorang Therapist). Perjalanan/progress dengan Therapist ini menyampaikan message ke gue bahwa semua ada prosesnya.. yang penting progress!

Gue juga takjub bahwa pengembangan karakter ngga berotasi di Lucifer dan Chloe aja, tapi hampir semua tokoh utamanya berkembang dan punya storyline masing-masing. Pengembangan karakter dan main theme dikemas dalam setiap episode yang bagus banget dengan bumbu komedi lingustik yang ngga udah-udah.

Lucifer mungkin TV series bahasa Inggris pertama yang gue tonton sejak.... I don’t know sejak kapan. Gue udah ngga terlalu minat nonton TV series/movies Bahasa Inggris karena seneng dengan produksi Spanyol, Sweden, dan non-English countries, but Lucifer is totally funny, easy to watch, and has a very light hearted plot.

Tuesday, September 15, 2020

Pokoknya Sebel Kalo Kena Clickbait!


Nama: Maya
Hobby: Komentarin social media orang lain YouTuber, Influwenser, Selebgram, dll (yang artinya gue ngga ngomongin social media temen gue loh. Ya setidaknya kalau jumlah followersnya masuk akal ngga gue omongin. Oops!).

Dari dulu gue paling ngga suka sama headline koran atau judul berita dengan ambiguous syntax. Pokoknya gue benci aja rasanya kayak ditipu begitu tau isinya “AH ELAH GITU DOANG!”. Trus gue juga benci banget sama caption Instagram yang menurut gue ngga kreatif karena selalu memulai dengan deskripsi diri seperti, “Sebagai orang yang blablabla aku...”

Hey, hello! Be creative!

TAPI, tau ngga.. Setelah orang pada kreatif membuat judul atau thumbnail dengan segala upaya “supaya clickbait”, gue juga malah jadi sebel! HAHAHAH! Ini gue maunya social media itu berjalan dengan cara gue yang lempeng.. jujur.. selow.. walo kalo nulis tuh muter-muter dan kadang ngga jelas messagenya.