Saturday, July 15, 2023

Kapan Merasa Bahagia?

By the waaaayy, suddenly I am 36.

AND NO ONE BELIEVES I'M 30+ SO I'M BEGINNING TO NOT BELIEVE IT EITHER 😂.

Yea I turned 36 last month - even tho the pandemic wasted almost 3 years of my normal life, that day made me feel a lot more relaxed about life. I was hoping for a fresh start. 36 is going to be a great age and superb year. At least that is my prayer. From that day, everything is going to get better each day - mostly because I am declaring that over my life :)) I want to work on making better life choices and thinking through each decision I make even if people think I'm crazy for over analysing but hey, I have a brain and damn it, I'm going to use it!

But that's not my intention when I decided to log in and write a blog post right now. Ini nulis pake basa Indonesia aja ya, karena kemarin juga ngobrol-ngobrolnya dalam basa Indonesia.

So, kemarin ngobrol sama temen tentang kesedihan yang sedang dia rasain (atau pikirin?). Dia banyak banget pikiran tentang hal-hal sulit dan menyulitkan dalam hidupnya sampai akhir-akhir ini ngga merasa happy. Well, I kinda familiar with those feelings sooo hiii! Hahahah.. Yah, gue juga pernah berusaha mikirin itu, walaupun track record sebagai anak Psikologi ngga membantu-membantu amat untuk menemukan jawabannya.

Then I said to my friend, "Universe itu kayaknya emang ngga didesign untuk bahagia dan damai." Maksud gue, ya peranglah, ya ribut lah, ya lagi adem-adem kudu ada yang politik lah, pandemi lah. Dengan segala perbedaan dan kepentingan sendiri ataupun kepentingan sekelompok orang banyak (atau sesimpel kondisi alam aja), kodrat dunia emang chaos. Jadi kita ngga mungkin sendirian berada dalam kebingungan, kesedihan,  bahkan ngga jarang jadi frustrasi.

Jadi masuk akal banget kalau ada yang bilang, cara untuk mencapai kebahagiaan adalah dengan merasa cukup. Masuklah ke dalam environment di mana inner-self kita sesuai dengan lingkungan. Kalau dalam kerjaan, masuklah ke pekerjaan di mana skill cocok dengan opportunity (skill di atas opportunity juga biasanya kita jadi bosen dan eventually ngga happy -- kecuali kalau opportunis dan stay karena gaji oke ya). Dalam rumah tangga atau relationship, ketika nilai pribadi cocok dengan pasangan, ngga perlu jadi orang kaya pun juga udah happy.

Kuncinya bukan "yang penting bersyukur". Bukan. Bersyukur itu dampak.
Semua cukup dulu.
Semua sesuai dulu.
Dan hidup kita akan nge-flow begitu aja. Seperti rambut yang ditata rapi sesuai dengan cuaca dan humidity lingkungan, pasti ngga akan jigrak atau lepek.. dia akan ngeflow ikutin gerak tubuh kita atau hembusan angin.

Masalahnya untuk mencapai kondisi tersebut, kita perlu sadar diri dan tau diri.
Tau diri kenapa kita belum bisa promosi di kantor sampai saat ini.
Tau diri kenapa dapat rezeki lebih.
Tau diri kenapa belum dikasih anak sama Tuhan.

Ya intinya, tau diri dulu. Ngga mungkin kita bersyukur kalau ngga diawali tau diri kan? Lalu setelah itu, mungkin keluhan akan tertahan dan berubah menjadi acceptance. Iyes, bersyukur itu akhirnya dampak karena kita tau diri.

Masih panjang step-step selanjutnya untuk mencapai hidup yang nge-flow.. but for now, gue sama temen gue mau belajar tau diri dulu.

0 comments: