Pages

Why Some People Delight in Being Killjoys?

Thursday, January 17, 2019


Ini cerita di balik keseruan #10yearchallenge yang masih berlangsung di social media seperti Instagram dan Twitter.

Tiga hari lalu ada temen yang nanya tentang grammar di Instastorynya dengan me-mention gue dan beberapa teman lainnya: "Sebenernya grammar-wise ini #10yearchallenge atau #10yearschallenge?" Waktu itu gue belum latah nge-post, tapi di Twitter udah lumayan trending world-wide dan gue udah tau tentang ini karena nge-scroll hashtag tersebut.

Gue nemu satu post di Twitter (dari bule dalam Bahasa Inggris), bahwa challenge ini adalah #10yearchallenge (tanpa 'S') karena basically yang ikutan silahkan post foto sambil discovering perubahannya dari tahun 2009, baik fisik, mental, kehidupan, karir, achievement, dan lain-lain.  Disebut "challenge" karena ngga banyak orang yang mau melihat 10 tahun ke belakang. Walaupun seiring bergulirnya waktu, yang join #10yearchallenge kebanyakan posting foto throwback aja tanpa deskripsiin perubahan dalam kehidupannya.

Gue jawab ke temen gue berdasarkan pemahaman gue atas tweet itu, ditambahkan dengan: Orang Indonesia mah awet muda jadi 10 tahun yang beda cuma kualitas kamera. Terserah deh grammarnya mau kayak gimana, tapi kalau di-klik hashtagnya, jumlah post lebih banyak yang tanpa 'S'.

Si Teman gue men-capture reply gue dan diposting ke Instastorynya. Dia ngga ada niat menggurui, tapi mungkin banyak teman/followernya menanyakan hal yang sama. Nah.. dari sanalah temannya teman gue (atau followernya, sebutlah namanya Mbak X) nyinyir gue - dan tentunya sambil me-mention gue di Instastorynya.

Mbak X: Belajar dari perubahan 10 tahun lalu ngga usah pakai foto dan social media, alangkah baiknya kita introspeksi dalam hati aja.

Lalu lanjutlah si Mbak X ini ranting sampai berlembar-lembar Instastory. Sampai pada beberapa post Instastory selanjutnya, dia nulis:

Mbak X: Yang berhijab jangan tergoda ikutan #10yearchallenge terutama kalau posting fotonya sebelum berhijab, karena itu aurat.

Mbak X: Seperti yang @misswhadevr bilang #10yearchallenge ini menggambarkan apa yang kalian pelajari selama 10 tahun, bukan throwback masa-masa indah sebelum berhijab.

Ketika baca nama gue di-mention, I was like... "The F? Some people are killjoys without realising they can always opt out eh!!!"

Meskipun gue langsung kesel sampai ke ubun-ubun (karena gue ngga ada maksud kayak gitu), gue memilih untuk diam aja. Biarin aja dia sibuk ceramah di Instastorynya toh jempolnya yang capek. Lagi pula.. orang yang bawaannya pengen ngeguruin kayak gitu bukan tandingan gue ya ngga sih? :)

Sebenernya gue masih ber-sumbu pendek dan petasan banting, ngga ada yang berubah. Jadi gue pengen banget gampar tu orang. Tapi gue mulai tau kepada orang macam apa gue bisa berargumen. Kalau kayak orang yang ngga dikenal, apalagi di balik social media, uh.. buang-buang waktu! Ngga ada nilainya berargumen (baca: berantem) sama orang seperti itu.

Gue ngga tau apakah banyak atau sedikit yang menanggapi Instastory dia. Yang jelas ngga ada yang mention atau message gue. Tapppppih.. gue masih kesel walaupun kejadiannya udah ampir 3 malam yang lalu *sigh* No problem.. gue masih belajar untuk don't sweat the small stuff.

Gue mungkin termasuk early adopter untuk Facebook, Instagram, Path, dan sekarang ada Vero. Awalnya semua fun, tapi lama-lama bisa gue tinggalin pada saat isinya udah terlalu banyak overshared dan ribut-ribut ngga jelas. Meskipun dalam dunia online, gue pengen mendapatkan suatu content yang menarik dan interaksi yang fun/berkualitas. Sayangnya, belakangan ini beberapa kali ada yang memutus keceriaan ber-medsos dengan menggurui orang lain.

So, kalau ada yang bisa gue pelajarin dari #10yearchallenge ini adalah just let other people enjoy harmless things and don't be a d*ck!

0 comments:

Post a Comment

 
template design by Studio Mommy (© copyright 2015)