Sunday, May 26, 2019

Adulting My Finances.


Tiga tahun belakangan, kondisi keuangan gue butut banget karena beberapa hal, salah satunya adalah cara pengelolaan yang urakan. Contoh urakan yang paling konkret itu ada 2, yaitu pemecahan tabungan di banyak rekening dan penggunaan credit card sebagai instrumen pembayaraan saat gue *ehm* belanja online. Akibatnya, gue pusing sendiri saat gue melakukan rekonsiliasi keuangan saat dibutuhkan.

Sebenarnya mudah untuk mengenali tanda-tanda keuangan kita lagi butut gini. Pertama, kita merasa overwhelmed dengan banyaknya kartu (atau mobile apps banking/payment) dan ngga hafal balance masing-masing, dan yang kedua, tentu saja ngerasa bokek mulu. Tiga tahun terakhir ini gue sempat beberapa kali ngerasain kedua hal itu secara bergantian ataupun bersamaan. Akhirnya sekarang gue mencoba untuk lebih rapi dan disiplin.

Dan ternyata ngga gampang untuk ngebenahin pengelolaan keuangan. Bukan dengan sekali coba trus langsung berhasil dan selesai masalah-masalah gue. Sampai sekarang, udah jalan setengah tahun tapi gue belum menemukan cara yang pas. Satu solusi yang cukup membantu adalah mengurangi jumlah rekening yang dikelola. Jadi sejak akhir tahun lalu, ada 2 rekening utama yang gue kelola: rekening tabungan dan rekening jajan. Keduanya pakai bank yang berbeda, tapi masing-masing punya mobile apps yang OK banget biar ngelolanya dan monitornya mudah.

Terus-terang, gue pindahin rekening tabungan gue dari bank umum nasional ke bank asing karena alasan mobile applicationnya. Bukan rahasia lagi kalau digitalisasi bank umum nasional kita ketinggalan jauh ya.. dan gue merasa semakin yakin dengan hal ini saat sakit kepala gue bisa ilang pas pengelolaan tabungan dan credit card bisa dalam 1 aplikasi aja. Gue ngga mau bilang ini bank apa, tapi bukan bank umum nasional hoho!

Nah, untuk urusan jajan, gue masih pakai bank umum nasional. Dan tentu saja *jeng jeng* it's Jenius BTPN. Ini bukan blog post promosi loh! Pokoknya memang untuk urusan jajan dan pembayaran, Jenius ini nomor satu karena basically source of fundsnya saving account dan kita bisa punya beberapa kartu debit. Fitur mobile appsnya juga ok punya dan mudah banget untuk gue yang lagi usaha beresin cara pengelolaan keuangan. FYI, Jenius ini bank ya, bukan di level yang sama dengan G*Pay dan Ov*. :)

Meskipun Jenius BTPN adalah saving account, hingga saat ini gue belum memutuskan untuk menabung di Jenius BTPN. Sementara ini biarkan di 2 bank terpisah dulu.

Sambil ngetik ini, gue ngerasa bodoh sendiri sih. Barusan mikir dalam hati, "Kok gue yang sehari-harinya adalah konsultan digital banking & fintech masih sibuk melakukan pembenahan keuangan ya?" Berhubung gue ngga bisa memaksa diri gue untuk sempurna, jadi gue anggap ini sebagai proses pendewasaan *pat on the back*. Udah lama gue denger, kalau orang-orang bule bilang, "Growing up means paying your own bills" and I couldn't agree more! Walaupun gue udah serba beli apa-apa sendiri sejak gue masuk kerja 10 tahun lalu, keadaan sekarang lebih menyadarkan gue kalau yang dibayar secara rutin itu bukan cuma tagihan selular aja.

Misalnya.. gaji mbak (housemaid). Duh this one is no joke! Dengan membayar gaji mbak, secara ngga langsung kan gue udah jadi perpanjangan tangan untuk menyalurkan rezeki orang - dan awalnya gue ngga sadari role ini. Pernah suatu saat ada tanda-tanda gajian terlambat dan yang gue pikirin bukannya duit ngopi gue tapi mesti pake tabungan di bank mana buat bayar gaji si mbak. Mana saat itu gue ngga hafal balance masing-masing.

Oh ya, pernah juga gara-gara ngga disiplin, gue lupa bayar cicilan mobil 2 hari. Yang bikin nyesel adalah dendanya lumayan untuk beli Starbucks huh!

Nah sekarang pos-pos udah dibuat lebih rapi sehingga sakit kepala bulanan udah jauh berkurang. PR gue selanjutnya adalah merapikan life style. Goals yang paling dekat adalah mengurangi frekuensi dan nominal belanja online sehingga gue bisa menabung lebih banyak. Kadang enaknya belanja online itu karena kita berasa dapet hadiah, padahal mah kita yang bayar. Ngredit pula! Bego-begonya manusia aja nih kemakan sama nafsunya.

Awal mula gue sering belanja online adalah karena gue males datang ke counter. Males banget hadapin SPG/SPB-nya gitu. Setelah satu-dua kali ngerasa nyaman dan seneng belanja online, akhirnya muncul sifat konsumtifnya. Kebetulan pada saat itu gue lagi seneng coba-coba makeup dan skincare. Tapi berhubung sekarang mata gue udah terbuka dengan banyaknya makeup dan skincare yang expired.. gue akan gunakan moment ini untuk ngurang-ngurangin belanja online.

Memang harus kena apes dulu baru insyaf.

0 comments:

Post a Comment