Inspirasi dan Fokus.

Saturday, September 10, 2016


Ngga kerasa udah 7 tahun gue kerja sejak lulus S1. Dulu gue beranggapan seseorang itu bisa dianggap berpengalaman kalau udah kerja lebih dari 7 tahun. And here I am!

Sering banget gue dapet pertanyaan dari temen-temen gue, kenapa gue ngga fokus untuk jadi fotografer aja atau jadi penulis. Hmm.. Sejujurnya, gue kecemplung ke dalam dunia konsultan pun dengan knowledge yang cetek, tapi along the way, gue menemukan jati diri di sana. Gue pun menemukan kenyataan bahwa dunia art bukan satu-satunya tempat bekerja untuk orang yang "nyeni" (berjiwa seni). Iyes, gue tau bahwa skill gue dalam motret dan nulis masih harus terus diasah, tapi gue memilih untuk menyalurkan seni gue ke dalam pekerjaan lain, yaitu Management Consulting.

Gue bukan orang yang pinter kok. Konsultan dan auditor itu identik dengan kata "Pintar" karena kami dekat dengan best practice, standar, dan regulasi. Tapi yang benar justru sebaliknya, kalau mau menjadi konsultan ya kita harus bisa dekat dengan ketiga hal tersebut, at least. Untuk gue sendiri, gue hanya seseorang yang mau belajar supaya pekerjaan gue bukan hanya jadi sebuat title. Gue pengen pekerjaan gue menyediakan ladang buat gue untuk tumbuh. Karena manusia akan bekerja sepanjang hidupnya untuk bisa hidup kan?

Dalam bekerja, kunci gue hanya 2: Inspirasi dan Fokus.

Seperti yang banyak orang lain tau, gue ini lebih ke arah nyeni daripada nerd. Gue punya cara belajar dan berpikir yang cenderung aneh, cara pandang yang nyeleneh, dan tingkah yang suka-suka. Yang penting gue harus merasa terinspirasi. Terinpirasi sama apa yang gue pelajari, sama lingkungan sekitar gue, sama team mates gue, bahkan sama tantangan-tantangan yang ngeselin sekalipun. Gue ngomong kayak gini bukan pencitraan sih, karena gue pernah 2.5 tahun keluar dari dunia consulting, dan kalau kata temen gue, gue ngalamin degradasi moral karena selalu feeling uninspired.

Di sisi lain, gue ternyata tipe orang yang suka struggle dengan mental endurance. Mulainya gampang, tapi fokus gue gampang switch saat ada suatu hal lain yang menurut gue lebih menarik untuk dikulik. Kata orang, "Supaya fokus dalam mengerjakan sesuatu, kerjalah sesuai passion lo. Successful people have unstoppable passion that give them willpower to be more focused." Sementara, sebagai seseorang yang sangat realistis, gue cuma jawab, "Kalau semua orang ngikutin passionnya, dagangan cuma laku dikit, Bung! That's not how the world works." **Basically itu jawaban gue setiap ada yang nyinggung-nyinggung passion sih, anaknya terlalu sensi :D

Tujuh tahun gue kerja, gue belajar bahwa ngga ada "delight button" untuk membuat orang fokus terus-menerus dalam 365 hari setahun - that's why di perusahaan ada 12-15 hari paid annual leave. Fokus bagi gue bukan berarti jadi pakai kacamata kuda, but we just have to stick with our goals without letting our emotions determine our actions. We gotta work through the boredom to embrace the daily routine that is required to achieve our goals.

It's not that I don't love my job sampe harus berusaha banget untuk fokus. In fact, gue merasa pekerjaan dan tempat gue bekerja saat ini adalah playground untuk menyalurkan rasa seni gue dalam bentuk yang lain. Misalnya tampilan presentasi yang aneh, report yang banyak diagram dan imagenya, serta framework kerja yang.. hmm.. lumayan sistematis sih, tapi gitu deh. Dan percaya atau ngga, 90% pekerjaan gue dilakukan di atas Ms. PowerPoint karena gue jadi lebih mudah berkreasi. Sisanya Ms. Excel mwehehehe.. :D

Gue ngga ninggalin motret dan ngga ninggalin nulis. Gue hanya sedang menjalani pekerjaan yang menurut gue lebih menginspirasi dan lebih membangun fokus gue di dunia consulting ini. Saat ini, sisanya cukup menjadi hobby aja, and I'm totally fine with that. :)



Photo credit: Kelly Brito [link].

0 comments:

Post a Comment

 
template design by Studio Mommy (© copyright 2015)