Anchor.

Wednesday, September 20, 2017


Anchor bisa didefinisikan sebagai suatu stimulus yang bisa memancing state of mind kita - suatu emosi atau suatu pikiran. Stimulus ini bisa berupa benda mati, seperti pakaian, parfum, buku, makanan, ataupun lokasi. Mungkin ada beberapa di antara kita yang punya satu baju gacoan yang selalu dipakai kalau kita lagi berharap a good luck. Atau misalnya, ada suatu lokasi di mall yang kita hindari karena di lokasi itu banyak kenangan sama mantan pacar. Nah, baju gacoan dan tempat di mall itu merupakan anchor.

Baru-baru ini gue sadar kalau ternyata gue punya suatu anchor, yaitu permen Ricola rasa Spearmint (atau Green Tea - yang kotaknya hijau). Gue sempet suka banget sama Ricola itu, bahkan Si Ricola sempat melalui suatu masa pacaran yang berakhir ngga enak. Waktu  gue switch ke Fisherman varian Aniseed (alias permen nenek gue), sebenernya alasan gue cetek banget: permennya gampang didapetin!

Suatu hari gue mulai bete sama kemasan Fisherman yang gampang butut itu. Pas lagi antre di kasir gue iseng ambil Ricola Spearmint. Ternyata, baru aja si Ricola sebutir masuk ke mulut gue, rasanya langsung super pahit dan menjijikkan. Aneh gitu sampe otomatis gue lepeh! Langsung deh gue kasih ke nyokap gue. Rupanya tanpa disadari, Ricola itu jadi anchor buruk karena sempet nemenin gue mengalami masa pacaran yang buruk.

Di kantor gue, di lini manager ke atas itu lagi hits banget Young Living Oil yang varian Highest Potential. Mereka sering hirup atau aplikasiin oil ini untuk menambah performance saat bekerja (gue juga ngebaca di blognya Diandra, oil ini emang "bekerja"). YLO ini jadi anchor buat mereka, meanwhile gue keukeuh setiap hari menghirup Olbas karena sinusitis. 11-12 lah bauknya.. *ditampar binder* gue bahkan suka lebih sombong ngehirup Olbas karena belinya kudu nyengajain ke negeri tetangga :D #ehmodus

Setelah kejadian Ricola dan YLO yang lagi hits di kantor gue itu, gue jadi mikir gue ini punya anchor apa aja ya? Gue mulai perhatiin, kalau lagi di client, gue bisa ngga pede kalau ngga nulis pake Parker gacoan gue. Ah masa iya sih Parker jadi anchor, gaya betul! Trus, kalau presentasi dan ngga pegang pointer (walau saat itu ngga perlu dipakai), rasa-rasanya ada yang kurang. Idih, masa pointer doang jadi anchor!

At certain point, gue merasa anchor itu bisa merugikan kalau kita ladenin. Tapi kalau kita sudah paham dengan konsepnya anchor ini, kita bisa mencreate banyak hal untuk membuat kita lebih bahagia. Misalnya, selalu sentuh telapak atas tangan kanan kita saat kita ketawa. One day, saat kita lagi bete atau sedih, kalau kita sentuh di tempat yang sama, otomatis kita akan happy!

Dengan atau tanpa anchor, kita punya otoritas untuk mengontrol emosi dan pikiran kita. So love yourself!

0 comments:

Post a Comment

 
template design by Studio Mommy (© copyright 2015)