Pages

Tentang Perempuan.

Tuesday, February 5, 2019


Suatu hari di minggu lalu, gue sempet merenung #jie. Udah lama banget gue ngga nerima atau dengar celaan tentang gue - at least di depan gue sendiri. Gue lebih banyak mendengar pujian tentang gue, baik pujian untuk fisik ataupun achievement (pendidikan dan karir).

Dan terus terang, sebagai orang yang pernah dibully + ranking 5 dari bawah + nyaris ngga pernah terima pujian selama masa sekolah dulu, sekarang gue masih belajar menyikapi pujian. Gue ngga pernah punya insecurity terhadap fisik dan flaws gue, tapi gue ngga pernah melihat diri gue sebagai perempuan yang ideal. Dalam berbagai hal, gue cuma beruntung.

Mungkin karena gue baby face, orang yang lebih dewasa juga ngga menasehati gue begitu tau gue belum menikah meskipun usia gue udah 31 tahun. Mungkin juga, karena orang banyak berpendapat gue hard-worker, mereka malah mendukung gue untuk puas berkarir dulu sebelum memutuskan menikah. Salah satu uwa gue yang juga direktur dari perusahaan PR ternama pernah bilang ke gue, "Kalau perempuan berpendidikan tinggi dan punya karir bagus, dia akan ngundang laki-laki yang derajatnya bagus juga. Suami-istri seperti itu, kalau sungguh-sungguh dalam pernikahannya nanti bisa membangun keturunan yang bagus juga. Jadi kamu harus buat diri kamu mahal!"

Selesai gue merenung kayak gitu, gue ngelihat video sebuah account di Instagram yang diforward ke DM sama temen gue. Videonya Ustadz yang mengasihani perempuan yang berpendidikan tinggi dan belum menikah itu loh (kayaknya minggu lalu sampai viral). Ada kata-kata yang keluar dari mulut Ustadz itu, "Saya kasian sama perempuan umur 40 atau 30 yang belum menikah." Well, saya menganggap Ustadz itu ngomong tidak mewakili agama, tetapi mewakili dirinya karena dia ngomong pakai kata "Saya."

Sakit hati? Ngga.

Tapi gue malah ngelanjutin merenungnya hahaha.... Biasa, malem-malem kalau ngga bisa tidur paling enak kan mikir sampai capek sendiri yah!

Tiba-tiba gue ngerasa kenapa zaman sekarang begitu banyak kritik dan komentar untuk perempuan? Dan pakai dikait-kaitin sama agama pula! Segitu takutnya kah orang-orang sama powernya perempuan sehingga buat mereka perempuan lebih baik "di belakang laki-laki" aja?

So, dari segala komentar seperti "pendidikan tinggi, bekerja, independen, tapi belum menikah" kayaknya gue masuk ke kategori itu. Dan pastinya banyak juga perempuan lain yang masuk ke dalam kategori itu. But hey, we are thankful of what we have and we enjoy our lives to the fullest!

Gue setuju kalau perempuan ngga perlu mendowngrade dirinya supaya bisa ketemu jodohnya. Personally gue yakin achievement selama ini adalah investasi untuk membangun kehidupan keluarga yang baik - sama baiknya dengan keluarga orang lain yang dimulai saat mereka early 20s. :)

Balik lagi ke video Ustadz tadi, ternyata ngga cuma satu yang forward video itu ke gue. Ada beberapa temen lagi dan kayaknya mereka memang pengen tau reaksi gue (secara gue emang paling ngegas dan out of the box kalau nanggepin hal-hal bego dan tolol). Malam itu, sebelum tidur gue cuma bales DM temen gue begini: "Hahaha.. ngga butuh belas kasihan dia sih."

Women's power and strength doesn't come from being involved in a relationship or marriage. If you're in my exact same shoes, we may not be a typical (Indonesian) woman but only boring people are completely stereotypical.

0 comments:

Post a Comment

 
template design by Studio Mommy (© copyright 2015)