Tuesday, February 17, 2026

So... last year I was diagnosed with high-functioning depression.

Tulisan ini ada di draft bulan September 2025...

Dari dulu kan orang selalu nge-remind kalau urusan kantor (kerjaan) jangan dibawa ke rumah dan juga sebaliknya ya (a.k.a penyebab pasutri cekcok) tapi makin ke sini gue makin bingung gimana caranya woeee? Mayoritas waktu kita berotasi di dua lingkungan itu, jadi butuh mental dan wisdom seperti apa supaya keduanya ngga bercampur-campur?

Gue sering denger cerita kalau masalah finansial bisa menimbulkan "strain" pada diri kita yang berujung pada kondisi rumah yang ngga harmonis, ujung-ujungnya bikin ngga konsen di kantor karena jadi demotivasi. Gue ngga tau gimana ngedeskripsiinnya, tapi menurut gue masuk akal banget kalau kita pindah kantor untuk mendapatkan penghasilan lebih tinggi dengan harapan memperbaiki kondisi finansial rumah.. harapannya kondisi finansial membaik akan membuat kondisi rumah juga membaik.

In my case, yang diserang saat ini bukan pundi-pundi, tapi personality. Beberapa bulan terakhir ini gue kayak ngga jadi diri sendiri di pekerjaan dan di rumah. Gue ngga merasa stress atau tertekan, tapi udah selama itu gue ngga menjadi diri gue sendiri.

Di kedua tempat itu, gue seperti ngga diperlakukan seperti yang seharusnya. Treatment apa yang gue harapkan sebagai orang yang hampir berusia 40 tahun di rumah dan 17 tahun berkarir di kantor? Gue juga ngga tau. But at this point, gue merasa: harusnya ngga begini, tapi harusnya gimana juga gue ngga tau.

Gue ngga banyak mencerna perasaan dan pemikiran-pemikiran ini karena udah lama juga gue berhenti journaling. Atau lebih tepatnya, gue ngga mau journaling tentang kondisi ini karena gue ngerasa takut ngehadapin apa yang pelan-pelan bisa ditemuin dengan journaling. Lebih baik sekarang diem dulu, jalanin dari hari ke hari dan berharap suatu hari turun aja gitu jawabannya. Which is impossible dong ya? Hidayah aja ngga dapet-dapet, gimana jawaban hidup?

Apakah ada yang namanya personality stroke? It's like role strain and burnout at the same time. Stroke aja gitu, gue diem ngga tau mau jadi apa. Tapi herannya, di sisi lain gue tetep produktif (at least gue merasa gitu). Atau emang gue burnout?

Yang pasti gue merasa kosong... jauh dari diri sendiri.


17 Februari 2025...

Akhirnya gue curhat... berusaha mencari jawaban apakah yang gue rasain normal untuk orang yang berada di posisi gue. Curhatnya ke psikolog. Pake duit.

Gue ceritain dari A sampai Z dan ikutin probing-probing dari beliau juga. Setelah beberapa sesi, beliau cukup yakin gue kena high-functioning depression. Gue mendapatkan diagnosis itu bulan September 2025. Immediately, gue bingung ini gue mesti apa ya? Apakah gue harus langsung mengambil keputusan besar, atau gue abaikan aja daripada lebay.. atau ngapain?

Besoknya gue langsung ambil diary kosong (yang memang selalu ada untuk cadangan journaling) dan gue cuma nulis satu paragraf "penerimaan" bahwa gue terserang high-functioning depression. Surprisingly, gue langsung merasa lebih lega dan nyadar kalau satu-satunya yang bisa kita kendalikan ya diri kita sendiri. Jadi seperti timbul awareness baru meskipun gue masih bingung gimana acceptance itu membawa gue ke kondisi yang lebih baik.

Gue ngga bisa kendalikan kantor. Gue ngga bisa kendalikan rumah. Selama itu involve orang lain, gue ada di sebuah sistem di mana gue harus kompromi, berdialog, nurut, atau terpaksa merasakan sesuatu. Tapi dengan kesadaran, kita bisa kendalikan untuk kalem, marah, menerima, menolak, jujur, bohong, atau menghindar sekalian.

Dalam 6 bulan ini gue juga belajar bahwa "Gue" dan "Fungsi" adalah dua entitas yang berbeda. Gue jadi inget quotenya Rene Descartes: "I think, therefore I am", bedanya gue selalu merasa I function, therefore I am.

Coba jawab untuk diri sendiri: Kalau gue ngga berguna, gue masih boleh ada ngga?

Tanpa gue sadari, gue merasa dalam social setting (termasuk pekerjaan) gue dipertahankan karena gue berfungsi. Which is aneh sebenernya, karena gue bekerja dalam kekecewaan setelah gue diminta untuk bikin surat resign hanya karena alasan administratif. Kekecewaan gue, gue salurkan dalam pembuktian seperti: Nih, gue tetep bisa kontribusi loh terlepas apa status gue!

Psikolog gue, merasa kondisi tersebut bikin makin runyam. Yang mana dalam kehidupan berorganisasi, kan ada masanya strategi perusahaan ngga selalu align dengan harapan lo ya, sehingga gue sering dihadapkan oleh fight or flight mode, yang mana ngga ideal banget because, according to him... "They don't deserve you, May..."

Ouch!

Lalu di rumah, akhirnya gue menjadi tidak berfungsi. Masalah itu kebawa-bawa sampe di rumah. Gue udah capek, maunya tidur, ngga mau ngobrol, chat sama temen-temen di WhatsApp karena "bisa ngobrol tapi sunyi" membuat gue menjadi orang yang tidak baik dan tidak berperan di rumah. Dan ketika gue ke luar rumah pas weekend, gue menjadi orang yang baik-baik aja kayak ngga punya masalah di weekdays-nya.

Because apa? Because gue harus jadi temen yang baik dengan tidak membawa energi buruk pas kita lagi kongkow-kongkow dong!

Ribet kali yah hidup ini.

Apa jadi gemini, anak sulung perempuan, cucu perempuan pertama itu tak cukup ribet?

So, hari ini, membaca apa yang gue curhatkan di draft atau di journal, kemudian ngelanjutin nulisnya (dan moga-moga berani untuk publish), gue pengen bilang, enam bulan ini gue lagi belajar: gue ada, bahkan saat gue tidak melakukan apa-apa. Gue belajar itu bukan untuk stop jadi orang yang produktif dan stop berkontribusi. Justru gue sedang menyelamatkan produktivitas jangka panjang gue.

Let's say sebuah handphone. Value handphone tidak ditentukan dengan jumlah aplikasi yang lagi jalan. Handphone juga tetep handphone pas layarnya mati. Justru kalau ngga pernah dimatiin/restart, performance handphone bakal turun, panas, akhirnya cepet rusak.

Gue bukan berhenti jadi handphone karena layar mati.
Gue cuma berhenti memaksa layar nyala terus.

Bulan September lalu gue merasa yang terganggu adalah personality gue. Ternyata, personality itu cuma salah satu alat. Personality itu cara manusia bertahan. Manusia itu yang tetap ada, bahkan saat semua cara bertahan udah runtuh.

0 comments: