Showing posts with label Idle Time. Show all posts
Showing posts with label Idle Time. Show all posts

Tuesday, July 8, 2025

Popotoan.

Tau ngga, harga film/refill Instax mini yang polos, sekarang sekitar Rp145.000,-? Sebagai penggemar Instax, gue cukup sakit kepala... apalagi kalau ngebanding-bandingin sama harga pertama kali beli yang masih di sekitaran Rp60.000,- Sebel sih, tapi mau berhenti "mainan" Instax juga susah kayaknya..

Buat gue, Instax itu must have (padahal ngga must-must amat, yakin gue!!!). Limitasinya Instax itu besar banget, terutama untuk nge-grab scenery ya.. ibaratnya kita foto di Kebon Binatang Ragunan sama London ngga kelihatan jauh bedanya. Tapi kan selain Instax itu lucu, hasilnya selalu surprising dan ngejepretnya satisfyiiiing. YA KANNN? PAHAM KAAAN?

BTW, ngomongin perfotoan, untuk yang suka foto ala film, filter, atau vintage, coba download dan bayar Old Roll deh. Alasan gue pakai Old Roll itu karena gue pengen banget Yashica Digifilm y35, tapi setelah baca-baca, ternyata konsepnya cenderung gagal lalu discontinued. Akhirnya download dan bayar photo app aja (waktu itu Old Roll masih Rp69.000,- untuk lifetime; ngga mau tau sekarang berapa!!), jadi ya basically gue download dan bayar satu kali untuk akses filter dan effect cameras di dalamnya. Sejauh ini udah lebih dari 3 tahun pakai Old Roll dan belum diminta untuk pay-for-upgrade kayak si Goodnotes yak.


Sekian dan terima film Instax gratis.

Monday, November 14, 2022

Antigen Test Melulu!

Sejak Desember 2021, kegiatan gue berangsur pulih. Udah business trip lagi, udah banyak meeting di luar, beberapa kali udah kerja dari kantor, dan udah ngeceng juga ke mall bareng temen-temen. Dari sok-sok-an ketat prokes, sampai akhirnya yawdalaya bund~

Bener kata orang, once lo kena covid dan sembuh, threshold keparnoan lo akan berubah. Apalagi dalam kasus gue, gue positive covid 2 hari setelah pulang business trip tanpa tau ketularan siapa dan (alhamdulillah) tanpa menularkan siapa-siapa juga. Isoman di rumah sangat berhasil walau ngerepotin banyak orang ya bund ya. Dan abis itu yang ada dipikiran gue cuma dua: Pertama, "Kalo apes ya apes aja.", dan yang kedua, "Oh keren juga ya rumah gue ramah isoman." :P

Akibat pemikiran yang pertama, pasca kena covid ini, gue jadi lebih less-parnoan. Tapi kalau soal prokes, gue tetep kenceng, termasuk urusan antigen sebelum dan sesudah ketemu dengan banyak orang. Soalnya nyokap gue belum kena covid, dan kalo bisa JANGAN *ketok-ketok talenan*. Nah, berhubung gue ngga suka banget proses antigen yang dicucuk itu, biar prosesnya menjadi lebih fun, kaset antigennya gue hias-hias aja.


Ternyata, ngehias kaset antigen itu bisa bikin gue lebih "nerima" kalau harus sering-sering cucuk akibat sering ke luar kota. Gue ngebayangin nanti setelah pandemi selesai dan udahan parnonya, koleksi antigen ini jadi kenang-kenangan pandemi hahah.. PADAHAL JOROK YA KAN BEKAS INGUS! Tapi beneran deh, ngehias kaset antigen tuh therapeutic, sistur!! Dari awalnya ambisius mikir hiasan/gambar yang beda-beda sampai akhirnya selow aja ngehias sekepikirannya. Trus karena udah bosen, kemarin gue beli kutex-kutex murah biar sekali-sekali ada yang ijo gitu warna kasetnya.

Jadi bener ya, manusia itu beradaptasi..... hmm...

Saturday, October 9, 2021

Ng-Upgrade iPad.

Sebagian dari blog post ini gue tulis tanggal 10 September 2021, tapi ngga sempet dilanjutin. Sekarang selesain yuk biar ngga mandeg di draft aja. Pengen ngobrolin tentang iPad yang ngga disangka-sangka ternyata malah jadi most viewed/read blog post di blog ini semenjak gue nulis tentang Goojodoq [link].


Walaupun gue termasuk orang yang selalu punya iPad (sejak iPad pertama gue yaitu 3rd gen), gue bukan orang yang techno banget sampai pengen ngomongin gadget/teknologi di blog ini. Tapi perlu jujur juga sih, kalau ada temen yang belum punya iPad/tablet, pasti gue hasut-hasut untuk punya. Apalagi sejak gue optimalin penggunaannya (bukan hanya untuk media consumption), gue makin gencar rekomendasiin iPad atau tablet lainnya supaya orang lain juga bisa ngerasain asiknya paperless atau nonton Netflix sambil boboan di layar yang lebih gede.

Thursday, May 20, 2021

It's Always #FreePalestine Until Palestine is Free!

I stand with Palestine.
Dan Al-Aqsha ada bersama akidah saya.
Always.

Friday, February 5, 2021

Say YES to Digital Note-Taking.


Rupanyaaaah digital note-taking & digital planning emang lagi gain popularity ya di Indonesia. Gue baru ngeh tentang hal ini setelah minggu lalu sign up TikTok. Ternyata iPad dan cheap accessories (dari Goojodoq - yang memang lucu sih) udah jadi #racunTikTok. Bahkan video unboxingnya bisa sampai ratusan atau ribuan di TikTok (iya, gue tontonin gara-gara Nadya ngeracun banget untuk liatin video ngga penting di TikTok).

Gue baru belajar digital note-taking pas kantor start full WFH di bulan Maret tahun lalu. Sebelumnya iPad cuma dipakai buat nonton Netflix aja :P Untuk urusan pekerjaan, journaling, dan belajar, gue masih pakai notebook karena.. I don't know, gue merasa bangga aja dengan kebiasaan jadul itu. Gue juga enjoy belanja notebook dan nimbun cukup banyak notebook dan agenda/journal. Cuma entah kenapa, gue seneng banget ngeliat Instagram post tentang digital planning. Dari situ lah gue akhirnya nyoba untuk menulis tangan (handwriting) di iPad.

Perjalanan dimulai dari mencoba beberapa stylus sebelum ke Apple Pencil. LOL! Gue rasa pasti ada deh beberapa orang yang kayak gue juga, yang mikir: Pasti ada nih yang lebih murah daripada stylus overpriced itu! Pasti!!! Experience menulis pun berubah banget (dan makin semangat) setelah berkenalan dengan Goojodoq Stylus karena gue akhirnya bisa menulis lebih rapi (walaupun tulisan tangan tetep mah jelek).

Ternyata selain belajar nulis, perlu waktu cukup lama untuk mengorganisir digital notes gue di iPad (saat ini pakai iPad 6). Pas kuliah, gue pakai binder yang mudah dipindah-pindahin kertasnya setiap section. Sebagai orang kinestetik, gue harus mencatat dan menstabilo, jadi selama kuliah gue selalu nyatet walaupun berantakan. Lalu pas gue kerja, seperti karyawan lain pada umumnya, gue hanya punya 1 notebook yang diisi secara sequential. Paling gue lipet-lipetin aja ujungnya kertasnya kalau ada catatan penting.

Gimana pas itu semua pindah ke digital notebook?

Tuesday, December 29, 2020

Last Post of #52WeeksofMisswhadevr | I'm a Ball of Feelings This Year.

I just had to *FINISH* this lol.

Circumstances are beyond my control AND I lost my joy since COVID-19 breakouts AND as the year progressed AND things pilled up on me AND while I was able to write.. I'm not sure it was the journal I initially envisioned. :)

But in all seriousness I enjoy writing *random* blog post this year. Also, happy 15th birthday to misswhadevr dot com.


Have a nice stay-at-home new year party to all!

Wednesday, December 23, 2020

Review: Goojodoq Stylus Pen Buat Kaum Mendang-Mending.


Selama WFH ini, gue belajar note-taking pakai iPad. Gue udah pakai iPad sejak iPad 3 release, lalu pas Apple merilis Apple Pencil, gue mikir... hmm should I do digital note-taking & journalling? Tapi melihat harga Apple Pencilnya, NTAR!

So.. setelah iPad 3 rozaq, gue jump ke iPad 6 dan menemukan suatu stylus Apple-Pencil-Apple-Pencil-an dari Goojodoq (China) senilai dua ratus ribuan aja. Itulah pertama kalinya gue download **syofi** dan mungkin hanya itu transaksi gue di sana. HAHA! Anyhow, karena ada beberapa varian stylus tanpa deskripsi yang jelas, I bought two Goojodoqs dengan harga yang berbeda untuk tau perbedaannya becaaaause YouTube reviews didn't. help. at. all.

So here I am, selama pandemi sudah berhasil menaikkan martabat iPad gue menjadi gadget yang menyimpan banyak isi kepala gue, mulai dari notes, gambar, sampai online learning. Games minggir dulu semua.

Review ini ditujukan untuk orang yang mungkin mau membeli Goojodoq Pen tapi ngga tau mau beli yang mana karena nama dan deskripsinya ngga jelas.

Thursday, November 19, 2020

Can We Have Just One "Snapinstwittok"?


Dalam waktu satu bulan, Instagram meluncurkan fitur Reels dan Twitter meluncurkan fiture Fleets.

Gue: ........

Speechless ah!

Thursday, September 17, 2020

Akhirnya Marathon “Lucifer”.


Udah cukup lama temen-temen gue rekomendasiin TV series Lucifer, tapi gue ngga maju-maju nontonnya sejak ada di FOX. Padahal gue orang yang mudah fascinated dengan crime scene / murder investigation TV show. Pas dulu gue nonton di FOX, selaluuuu aja pas episode/bagian yang ngga serunya. Entahlah dia lagi jadi devil, lagi marah-marah sama tokoh yang diduga ibunya, daaaan segala episode yang membuat serial ini menjadi rumit.

Akhirnya bulan lalu mereka release season 5, biar nontonnya nyambung, gue mulai dari season 1 episode 1 di Netflix. LAH KOK TERNYATA LAWAK?!

Makin banyak episode yang ditonton, gue malah meninggalkan bagian murder investigationnya dan nikmatin hal lainnya yang ditawarin TV series ini, yaitu comedy, celestial story, dan love storynya. Comedynya udah jelas dari scriptnya (RP accent plus vocabnya yang sophisticated itu nilai plus banget untuk yang mau memperlancar Bahasa Inggris). Celestial storynya ngasih gue pandangan lain soal sejarah dan hubungan makhluk celestial berdasarkan agama, budaya, dan bahasa lain (terlepas banyak juga improvisasinya). Dan love storynya.... #uhuk bikin gemez.

Hal lainnya yang bikin gue ngikutin serial ini adalah kemampuan penulis cerita untuk menggambarkan cara berpikir manusia dan emosinya yang rumit. Ada masa di mana manusia bingung soal perasaan yang dialami. Episode per episode, perasaan itu diidentifikasi dan dikupas (dibantu dengan tokoh seorang Therapist). Perjalanan/progress dengan Therapist ini menyampaikan message ke gue bahwa semua ada prosesnya.. yang penting progress!

Gue juga takjub bahwa pengembangan karakter ngga berotasi di Lucifer dan Chloe aja, tapi hampir semua tokoh utamanya berkembang dan punya storyline masing-masing. Pengembangan karakter dan main theme dikemas dalam setiap episode yang bagus banget dengan bumbu komedi lingustik yang ngga udah-udah.

Lucifer mungkin TV series bahasa Inggris pertama yang gue tonton sejak.... I don’t know sejak kapan. Gue udah ngga terlalu minat nonton TV series/movies Bahasa Inggris karena seneng dengan produksi Spanyol, Sweden, dan non-English countries, but Lucifer is totally funny, easy to watch, and has a very light hearted plot.

Tuesday, September 15, 2020

Pokoknya Sebel Kalo Kena Clickbait!


Nama: Maya
Hobby: Komentarin social media orang lain YouTuber, Influwenser, Selebgram, dll (yang artinya gue ngga ngomongin social media temen gue loh. Ya setidaknya kalau jumlah followersnya masuk akal ngga gue omongin. Oops!).

Dari dulu gue paling ngga suka sama headline koran atau judul berita dengan ambiguous syntax. Pokoknya gue benci aja rasanya kayak ditipu begitu tau isinya “AH ELAH GITU DOANG!”. Trus gue juga benci banget sama caption Instagram yang menurut gue ngga kreatif karena selalu memulai dengan deskripsi diri seperti, “Sebagai orang yang blablabla aku...”

Hey, hello! Be creative!

TAPI, tau ngga.. Setelah orang pada kreatif membuat judul atau thumbnail dengan segala upaya “supaya clickbait”, gue juga malah jadi sebel! HAHAHAH! Ini gue maunya social media itu berjalan dengan cara gue yang lempeng.. jujur.. selow.. walo kalo nulis tuh muter-muter dan kadang ngga jelas messagenya.