Almost 30: Comfortable in Your Own, err.. Fake Skin.

Sunday, May 7, 2017


Dulu gue curiga gue akan panik-panik lucu pas mau masuk ke usia 30, eh ternyata gini-gini aja. Gue cenderung lempeng dan nyaman dengan diri gue karena gue ngga mudah termakan omongan orang, termasuk kalau ada yang nyinyir kesibukan kantor gue menyebabkan gue belum nikah. Soal penampilan, gue cukup nyaman dengan penampilan gue. Walaupun ada yang mengira gue masih kuliah, tapi client dan orang gedung kantor gue udah banyak yang manggil gue, "Bu" daripada cuma, "Mbak".. which is progressing lah dari 2-3 tahun lalu ekekekek..

Sepuluh tahun lalu, gue yakin gue juga biasa aja pas mau masuk usia 20. Pacar gue waktu itu beda setahun umurnya, dan dia udah nyontohin usia 20 ya gini-gini aja, ngga ada perubahan yang signifikan. Nah, setelah 10 tahun berjalan, bukan pertambahan usia yang biasanya bikin gue deg-deg-an, tapi perubahan fase hidup. Misalnya, dari lulus S1 ke lingkungan kerja. Trus masuk S2, trus lulus lagi. Termasuk pas mau pindah kerja. Fase hidup dimana kita harus menyandang identitas baru itu jauh lebih menguras pikiran daripada sekedar ulang tahun, karena kadang gue ngga siap untuk menerima risiko dari keputusan yang gue ambil. Lulus kuliah itu juga keputusan loh, karena kan sebenarnya bisa aja kita santai kuliah dan menunda lulus.

Ngomongin pertambahan usia, banyak banget yang takut dengan perubahan fisik. Misalnya di kulit dan rambut mulai muncul tanda-tanda penuaan, boobs mulai sagging, ketawa dikit mulai batuk. Ngga heran banget deh sekarang produk skin care makin laris, botox makin common, dan beauty b/vlogger doyan banget bagi-bagi tips anti-ageing. Pada postingan tahun lalu pun gue mulai cerita tentang skin care routine gue [link] dan mulai "invest" di beberapa skin care products.. yang sayangnya.. it didn't work!

Yes, setelah 8-10, gue berani menyimpulkan kalau percobaan gue untuk merawat kulit dengan membeli ini-itu malah membuat kulit wajah gue berantakan. Akhirnya gue kembali ke satu produk andalan: Egyptian Magic Cream! Facial wash sudah diganti dengan Cetaphil for Oily Skin (walaupun kulit gue cenderung ke kering) dan Kiehl's Midnight Recovery yaaa boleh lah dipakai.

MAJOR BREAKOUTS
Hehehe sok-sok-an nulis major breakouts, padahal mah bahasa Perancisnya "Jerawatan Parah". Gue mengalami major breakouts pertama di tahun 2010, gue inget banget itu di awal tahun, dimana pipi gue rame banget jerawatnya. Akhirnya gue ke dokter kulit dan ngehabisin berjuta-juta sampai bulan Juni di tahun yang sama. Setelah gue berhenti, jerawatnya ngga balik lagi dan cenderung cuma punya jerawat yang "biasa aja".

....... Sampai dengan akhir tahun lalu!

Gue inget waktu itu gue ganti CC cream dari Olay ke Bourjuis, saat itu ada satu jerawat di pipi kiri. Langsung deh abis itu rame banget jerawat di pipi dan ngga berhenti sampai bulan Maret kemarin. Gue akhirnya memutuskan untuk berhenti pakai produknya Kiehl's (and in between postingan gue bulan Juli itu sampai Maret kemarin, gue udah beli banyak produk Kiehl's dengan niat biar awet muda), dan gue berhenti juga pakai micellar water setelah Corrine-nya habis [link]. Gue akhirnya balik lagi ke cleansing milk dan tonernya Viva plus Cetaphil.

You know what, ternyata jerawat-jerawat gue mulai kempes setelah gue berhenti pakai micellar water! Untuk membuat dugaan ini menjadi lebih obvious, minggu lalu gue beli Bioderma karena lagi diskon. Malamnya gue coba cairan ajaib itu dan besok paginya langsung tuing! muncul satu jerawat.

Dear God, gue alergi micellar water!

Which is good sih sebenernya jadi ngga perlu bokek hahah.. Gue ngga akan pakai micellar water dan hopefully tingkat kejerawatan gue akan kembali ke jerawat yang "biasa aja". Ngga bisa berharap 100% sleek juga since endometriosis muncul lagi, hormon pasti pabalatak. :)

So yeah, di usia 20-an gue, gue mengalami major breakouts saat usia 23 dan 29. And Ladies, it happens sih.. terima aja. Kalau gue bisa menemukan sumber alerginya tanpa ngeluarin berjuta-juta lagi then kalian pasti juga bisa.

SIGNATURE HAIR
Di usia 30 katanya kita akan menemukan banyak grey hair, should I be worried? Sampai saat ini gue bahkan jarang memaintain warna asli rambut gue karena gue selalu mengecat rambut. Jadi, yeah, I haven't found a grey hair!

Seinget gue, pertama kali gue cat rambut in my early 20s. Lalu saat usia 24-an selama 2 tahunan gue sempat hidup dengan 2-4 warna di kepala gue karena gue senang sekali menghigh-light rambut. Waktu itu ada Salon Gorjez di Cipete, dimana gue bisa highlight rambut gue dengan 2-3 warna sekaligus dan cuma Rp 200.000,-an saja! Setelah capek untuk maintain highlight tersebut, gue ganti style ke hitam pekat. Rambut asli gue ngga terlalu hitam, dan gue senang aja dengan rambut superblack. Jadi setahun gue 2-3x dying my hair black.

Sekarang gue udah, hmm.. cukup lama punya rambut pendek yang hitam pekat. Sempat manjangin tapi ngga sampai setahun trus capek sendiri. Sebulan belakangan gue mendadak galau pengen manjangin rambut. Kangen dikuncir ponytail. Kangen banget. Tapi masih ngga yakin apakah gue bisa maintain persona "wanita karir" gue dengan rambut panjang. Short bob always looks smart and polished on me. So, we shall see..

FAKE SKIN
Saat gue kuliah S1 dulu di Trisakti, banyak banget anak kampus yang sudah pakai foundation atau bedak tebal-tebal ke kampus. Alis Sinchan dan lipstick merah bahkan bukan barang aneh lagi sekarang, karena 10 tahun lalu udah jadi pemandangan sehari-hari buat gue. Komentar yang sering gue denger untuk mereka adalah, "Ih, fake abis tau ngga sih!", termasuk ke anak-anak kampus yang pakai foundation untuk nutupin jerawat-jerawatnya.

Sekarang ini tampaknya jarang banget nemuin perempuan yang ngga dandan ke kantor. Rupanya memang common untuk dandan pakai foundation setiap hari. Ngga jarang juga kita nemuin orang kantoran yang udah pakai contouring, alis Sinchan, serta dandanan yang dulu kita bilang fake banget. Dan gue pun ngakuin kadang gue suka lebay bronzingnya kalau pagi itu gue merasa pucat. And yes, selain hari libur, gue ngga ninggalin rumah tanpa makeup. I love being fake.

Gue bahkan nulis blog post tentang kenapa perempuan -menurut gue- harus dandan [link]. Gue merasa perlu menyamarkan pigmentasi kulit wajah gue, menutup sedikit pitak di alis gue, dan memberikan sedikit dimensi pada wajah gue yang mirip Dorami ini. And I feel comfortable.

ROLLS, ROLLS, ROLLS
Pasca operasi endometriosis sekitar 4 tahun lalu, gue berhenti exercise dan membiarkan almost-six-packs gue hilang. Sekarang berganti dengan lemak. Gue bener-bener merasakan yang tadinya ngga ada rolls saat duduk, menjadi ada satu roll, dan sekarang dua rolls. Sometimes I go, "Uh-oh", tapi kadang, "Yaaaa sudah lah ya ini kenyang namanya!"

I gotta admit kadang gue pakai korset kalau gue keliatan "kenyang banget". Belum lagi endometriosis sering bikin gue bloated saat ovulasi. But I am okay with that. Gue berhenti exercise dan konsekuensinya memang lemak tumbuh dimana-mana ngga karuan.

WRINKLES
Kalau tadi gue belum menemukan gray hairs, gue ngga yakin belum menemukan wrinkles. Kayaknya ada sih dikit-dikit tapi gue ngga yakin itu tanda penuaan, karena basically menurut gue normal aja kalau gue senyum ada garis di samping mata atau smile lines. And you know what, I kinda love them! Jadi gue ngga keberatan kalau itu memang sign of ageing, heuheuheu...

Yang agak bikin gue resek mungkin double chin. Secara pipi gue ini berat dan ngga menutup kemungkinan semua ketarik-tarik gravitasi #ihik.

Buat yang baca ini dan ternyata usia kalian di bawah gue, gue saranin untuk embrace your beauty in your 20s. Dalam arti kata, kalau kalian merasa beauty dengan rambut warna-warni, please do so. Kalian jerawatan pun jangan sampai merasa ngga beautiful, karena somehow itu suatu cycle dan nanti juga akan sembuh, walaupun dalam prosesnya butuh extra care. Kata Teteh Madonna, if it makes you feel good than I say do it. Memang ngga semua pilihan dan aktivitas bebas konsekuensi, tapi people won't stop judging you kan.

"Age is just a number, don't you stop having fun." - New Kids on the Block.

2 comments:

  1. Dulu goal gw waktu mau umur 30: pokoknya harus punya kulit bagus tanpa foundation pun udah mulus dan glowing. Tapi ngga pake usaha, jadi skincare ya gitu2 aja dan facial pun nggak pernah. Jadilah sampe sekarang harus foundie-an kalo mau keliatan 'bagus' di foto hahaha.. malah yang tadinya cita-cita mau invest di skincare, ini malah sekarang kok gw jadi demen beli makeup melulu.. apa kabar investasi??

    Gw pernah dapet sample moisturiser gitu dan merasa itu HG skincare banget karena hasilnya wow ngga bisa diungkapkan dengan kata2. Namanya Kate Somerville oil free moisturiser.. Tapi harganya hampir $100 per jar. Kan jadi agak gimana gitu ya. Akhirnya balik ke neutrogena yang $12an aja deh...:/

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue pun gitu.. Udah kenyang dipuji pipinya, maunya kulitnya juga dipuji. EALAH jerawat mentul-mentul. Ujug-ujug pecah-pecah karena kering. Pulang kantor, capek, cuci muka, eh trus tidur. Dadah-dadah aja sama night cream.

      Pengen cantik sih (namapun cewe ya, dusta banget kalau ngga pengen cantik) tapi lebih sayang sama tenaga dan duitnya haha!

      Delete

 
template design by Studio Mommy (© copyright 2015)