Saturday, April 20, 2019

Coffee Talk: You Want What You Can’t Have.


Ada beberapa situasi dalam hidup ini yang meninggalkan kita tanpa solusi. Hari ini, gue bilang ke teman gue bahwa yang bisa kita lakukan cuma move on.

Mungkin gampang bagi gue untuk bilang begitu karena gue pernah berada dalam kondisi itu beberapa kali (ini bukan special case tentang relationship, bisa aja dalam kerjaan dan kehidupan sehari-hari). I used to hate that situation because there's nothing worse that feeling no finality to something, but I still like resolution. So how do I get resolution on my own? My answer only "Everything happens for a reason". With that I'm trying to see the best in every situation that comes my way.

Lalu, ya move on.

Hampir dua jam kemudian kami masih berkutat mengeluh satu sama lain tentang hal-hal yang ngga bisa kita miliki. Kebebasan mengatur waktu karena status sebagai "budak korporat", duit yang ngga sebanyak selebgram buat travel 3 bulan sekali, sampai kota tempat tinggal pun dikeluhin.

Bukan besar kepala, tapi gue mau cerita kalau gue ternyata jauh lebih slow daripada teman gue ini. Teman gue memendam banyak hal hingga dia takut semuanya akan jadi bom waktu. Ada saat-saat di mana teman gue pengen teriak karena sangat frustrasi atau nangis menyendiri sampai hampir self diagnosing dirinya kena depresi. Gue (mungkin) paham, karena pernah ngalamin berbagai emosi consumed myself at a time. It is then I wonder.. which emotion is real and which do I respond to?

Tapi terus terang, bukannya mencari jawaban, gue malah tidur nyenyak, makan enak, jajan banyak (mungkin ini juga coping mechanism ya). Atau nulis. Gue pernah nulis pas lagi galau banget di sini [link] dan di akhir tulisan alhamdulillah ketemu solusinya gue harus ngapain. Tapi ngga semua orang bisa kayak gue karena kita punya coping mechanism yang beda-beda.

Cuma intinya tetap sama, ngga ketemu solusi untuk masalah pokoknya. Tetap mesti move on.

Gue merasa kita bisa begini karena Tuhan ngasih kita perasaan-perasaan (feelings) karena suatu alasan. Trus pertanyaan kami berdua tadi siang: So why not act on them? Kita kan boleh berontak, teriak-teriak, loncat-loncat gembira, terserah kita.

I think most people are scared to do it. Karena coba bayangin kita bereaksi terhadap feeling tetapi kita ngga tau arti di balik feeling tersebut, maka kita bisa bikin keputusan yang salah atau melakukan hal yang menimbulkan damage. Kalau ini statement tersebut bingungin, ya bayangin aja gimana tadi siang gue dan teman gue ngobrolin hal ini dengan kondisi di luar sedang gloomy.

Kami ngobrol sangat detail mengenai situasi-situasi tertentu. Beberapa kali kita berdua kesulitan untuk navigasiin pikiran dalam topik ini, karena aneh aja kalau ngga ada solusi atas suatu keadaan atau masalah yang kita hadapi. Topik ini memang jadi panjang banget karena gue dan teman gue berbeda keyakinan, jadi solusi seperti shalat istikharah ngga bisa jadi penengah untuk obrolan kita. 

Terlepas dari solusi yang agama gue tawarkan, gue pribadi merasa sangat penting untuk mengikuti insting kita dan melakukan apa yang menurut kita benar. Tapi di waktu yang sama, it isn't always the right timing to do so.

Iya, kadang memang ngga belum ada solusinya.

Move on aja.

0 comments:

Post a Comment