Showing posts sorted by relevance for query Sunday Neurosis. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Sunday Neurosis. Sort by date Show all posts

Sunday, April 24, 2016

Dark Sunday.


Memasuki tahun ketujuh kerja full time, gue mengalami gejala-gejala Sunday Neurosis. Gue agak anxiety setiap hari Minggu, seperti beberapa kali gue merasakan hari Minggu gue lenyap gitu aja karena gue mulai gelisah sama 5 hari ke depan. Seharusnya gue bisa mengatasi anxiety itu supaya hari Minggu yang gue jalani lebih bermakna.

Padahal 5-6 tahun lalu, hari Minggu yang gue jalanin lebih bikin miserable. Pada periode itu gue kerja full time setiap weekdays dan kuliah S2 pada Jum'at dan Sabtunya. Satu-satunya waktu yang bisa gue isi untuk nyelesain tugas-tugas kuliah gue adalah Minggu karena gue cenderung selalu lembur kerja pada saat weekdays. Yang gue sadarin, Minggu gue lenyap ngga diisi dengan istirahat, tapi somehow bermakna karena gue berhasil menyelesaikan tugas.

But recently I have these Sunday Neurosis symptoms for a whole different reason.. yet I'm feeling equally as melancholy, confused, and just plain "UGH!". Untungnya hal ini ngga berpengaruh kepada kapasitas kerja dan berpikir gue di 5 hari ke depannya.

Gue sadarin gue bukan satu-satunya orang yang ngalamin hal ini. Walaupun cuma untuk seru-seruan, hashtag #BesokSenin sebenarnya ngebuktiin bahwa hari Minggu malam itu memang sesuatu bagi banyak orang. Kira-kira, kenapa sih kita bisa ngalamin Sunday Neurosis?

Gue sendiri sadar banget kalau kerjaan gue banyak menumpuk dan bisa dibilang dalam 5 bulan terakhir belum ada yang final. Sebagai orang yang agak high achiever, gue gemes banget sama produktivitas gue yang lagi menurun karena sifat pekerjaan gue yang unik. Dan gue cenderung overthink mengenai produktivitas gue selama working days. So I'm literally trying to fit everything I should've done in the week in one day and then crying inside about it.

Sementara itu, salah seorang teman gue mengakui dia mengalami Sunday Neurosis karena dia sering gagal mencapai harapan liburnya setiap weekend. Setelah kerja 5 hari, dia selalu membayangkan mau ngapain weekend besok, eh ternyata ngga kesampaian karena malah melakukan hal yang lain. Akibatnya, dia memberikan nilai kepuasan yang rendah pada weekendnya - hal kayak gitu yang terjadi berkali-kali menyebabkan dia mengalami Sunday Neurosis sampai level bad mood dan marah-marah setiap Minggu malam.

Ada treatmentnya ngga sih? Pasti ada. Menurut gue mengatasi Sunday Neurosis cukup dengan menemukan penyebabnya dan kita basmi penyebab itu. Tapi.. mengeluh lebih gampang daripada action kan ya? Lagi pula apa sih yang biasa kita lakukan saat mengalami Sunday Neurosis dan helpless.. ngga ada, palingan gelisah karena ngga bisa tidur atau overthink. Kayaknya jarang ada orang yang sampai melukai diri sendiri karena hal ini.

Jadi #BesokSenin? Ngga apa-apa.. Gue akan semangat kerja sambil nungguin weekend dan ketemu Sunday Neurosis berikutnya haha!

Sunday, January 3, 2021

Sunday Neurosis Part ke-Sekian.

Hari ini gue ngalamin Sunday Neurosis sejak bangun pagi tadi. Pas buka mata, yang ada dipikiran gue pertama kali adalah, "Oh shit, today's gonna be hard!" Lalu sampai jam 10 waktu berjalan lambat dan gue masih enak main game sambil nonton TV. Tapi setelah itu.. kok waktu ngegelosor begitu aja? Gue mengalihkan pikiran dengan belajar supaya ngga mikirin waktu yang terus jalan, tapi gue tetep gelisah dan ngga bisa fokus.

Shit. #BesokSenin.

Trus temen gue juga tiba-tiba WhatsApp gue, like our brain cells connecting well.

Gue coba nge-recall kapan gue ngalamin Sunday Neurosis seperti ini, soalnya rasa gelisah kayak gini sangat familiar dan pernah ngehantuin hari Minggu gue. Setelah gue cari-cari di blog ini, ternyata kejadiannya di tahun 2016. Tahun itu, hampir sepanjang tahun gue dihantuin Sunday Neurosis. Berarti tahun itu, gue seperti diserang sebanyak 52x dalam setahun, setiap hari Minggu - if you know what I mean. No wonder jam 1 siang gue ngerasa fatigue banget dan sekarang jam 4 sore gue udah ngga nafsu gerak.

Tapi, dari posisi gue yang konsisten horizontal di atas kasur sejak kemarin sejam yang lalu, gue berhasil mengidentifikasi bahwa seengganya ada 2 faktor besar yang bikin hari ini gloomy banget sampai gue tertekan kayak gini.

Pertama, udah jelas ini awal tahun dengan segitu banyaknya beban tahun lalu yang carry over. Somehow kondisi yang belum membaik ini membuat gue ngga excited dan ngga punya visi mau ngapain gue tahun ini. Ngga ada jadwal liburan yang bikin excited, pekerjaan pun banyak beban, semua plan masih penuh uncertainty.. So gue berasa incapable tapi di saat yang bersamaan i knooooow banyak hal yang harus gue lakukan terkait dengan pekerjaan. Apakah gue punya energi sebanyak itu?

Semalam, gue ngobrol sama RG setelah dia tanya satu pernyataan retoris di ujung sana. "Are you okay?"
Dan gue tiba-tiba langsung pengen keluarin semua yang ada di dada gue tapi cuma bisa jawab gini: "Do I have to be strong and positive for EVERYONE? I am exhausted. So, no, I am NOT okay."

I had to just tell someone that I am not okay.

Bukan dalam kondisi yang bobrok dan depressed juga sih, tapi gue ngga melihat diri gue baik-baik aja saat ini. Kayaknya masih ada di diri gue yang ngga terima semua plan tahun lalu berantakan dan sampai tahun berganti ini gue juga belum bisa menata ulang semua yang berantakan itu.

Kayaknya belum sepenuhnya ikhlas juga jadi gue merasa semua kondisi ini unfair. Jadi yang gue bilang ke orang-orang kalau gue ikhlas dan legowo, itu bisa jadi cuma sampai mulut aja karena kalau gue lagi bengong, pasti masalah-masalah ini diungkit-ungkit mulu di kepala gue.

But people said: Oh harus banyak bersyukur karena blablabla..

To be honest, if anyone is trying to personify what blessing in disguise means, I would say it was the virus breakout & PSBB and the work from home culture that followed. That's it.

Faktor kedua adalah, ternyata gue ovulasi hari ini. Jadi pas tadi lihat period calendar, I was like DANG! PANTESAN! Setahun terakhir kayaknya gue makin kepayahan setiap ovulation week cuz those eggs always hit me so hard at full volume! Kadang-kadang timbulin sakit secara fisik, tapi kadang-kadang bikin uring-uringan ngga jelas kayak gini.

Jadi Sunday + Ovulation = God bless you.

Sunday, May 12, 2024

Minggu Sore.

"Banyak-yang-dipikirin" itu sebenernya alasan pusing + anxious yang paling ngga jelas. Diobatin pake aspirin ngga bisa, dibawa tidur ngga bisa, dibawa curhat ke therapist juga ngga lucu. Obatnya itu cuma mengurai semua pikiran jadi prioritas per prioritas, trus... DIKERJAIN.

Ya masalahnya kalau males atau keinginan untuk menunda-nunda lagi kambuh kan motivasi untuk ngerjain juga ngga ada ya? Kadang berhadapan dengan kondisi "banyak-yang-dipikirin" itu aja udah nguras energi. Kalau gue sih ujung-ujungnya harus duduk manis di coffee shop, sendiri atau maksimal berduaan dengan orang yang lagi sama sibuknya, untuk mulai ngerjain atau selesain masalahnya satu per satu.

Nah masalahnya (lagi) adalah...
Beberapa bulan bekangan ini, hidup gue isinya begitu doang.
Like, damn? Life's busy and idk wtf is going on.

I am pro-passionate and purpose driven but currently I just forget what I'm working so hard for in the first place... :/

Untungnya aja, masih ada hal yang bisa gue syukuri: Gue ngga sendirian kok HAHAHAHAH... Secara terpisah, gue ngobrol sama temen-temen gue tentang masalah ini, dan rasanya pengen berpelukan kayak teletubbies (of course gue yang jadi Po). Banyak orang mungkin bertanya-tanya kenapa ada aja orang kayak kami yang sibuk mulu (atau basa gaulnya punya hustle culture), tapi salah satu temen gue yang mulai menemukan zen-nya dalam situasi ini bilang, "My view this isn't hustle culture - my view is that with focus, upskilling, and clear purpose, people like us can stay busy while still enjoying our lives." Ya kadang gue end up cemburu sama orang-orang yang udah bisa mencari alasan kenapa mereka melakukan sesuatu, karena gue kayaknya tipe orang yang kerjain aja sambil ngeluh :))

Ya ngga apa-apa sih, hidup juga ngga perlu diiringi dengan amunisi alasan dan wisdom karena nanti di alam sana ngga ditanya apa alasan kamu menerapkan side hustle :( #dark

By the way, di sela-sela kejelimetan kepala ini, TERNYATA gue masih bisa enjoy dengan keseharian gue. Ternyata hidup freelancing dan/atau remote worker ini memang berbeda banget dan ngga bisa dipahami kalau kita belum nyemplung ke dalamnya. Mungkin orang bingung kok mereka-mereka ini mau kerja pas weekend, but dude, ngga ada yang menandingi enaknya randomly ke Ikea di Rabu siang pas orang kantoran menjalani hump day. Sebenernya apapun pilihan dan kondisi kita, semuanya balik lagi kepada belief kita: When you are connecting to your purpose and growing and serving, the reward and fulfillment will follow.

Sekarang Minggu sore. Hampir satu tahun terakhir, setelah gue freelancing, Minggu sore gue lebih light dan gue udah lupa gimana rasanya ngalamin sunday neurosis walaupun saat ini lagi duduk di depan laptop untuk nyicil kerjaan besok. Biasanya, Minggu sore gue diisi sama jalan-jalan, tapi kali ini rasanya "ngga apa-apa" duduk sambil kerja.

Fwiw the process has to be its own reward because when you enjoy the process, the quality of what you created will rise. (PS: Bukan berarti besok-besok gue berhenti ngeluh).

So... cheers!


Sunday, November 13, 2016

Four Weeks.


O Dear Diary..

Hari Sabtu ini sudah terhitung 4x Sabtu berturut-turut gue kerja dan bukannya istirahat. Jadi dalam waktu 4 minggu terakhir, gue selalu bekerja 6 hari. Selain karena ada special case di kantor, gue juga udah mulai overwhelmed dengan to do list gue, jadi gue mesti nyicil pekerjaan minggu depan di hari Sabtu biar hari Senin gue bisa lebih menyenangkan dan gue ngga mengalami Sunday Neurosis :D

Karena hari Sabtu-nya gue sibuk, gue pengen hari Minggu-nya jadi minggu tenang dan gue meraih well-earned rest. Itungan well-earned rest gue ngga aneh-aneh kok. Misalnya: kalau tidur harus deep sleep, kalau nonton mesti tuma'ninah, kalau pegel mesti di-massage yang enak, kalau mau pergi ke mall ya harus pergi ke mall.. pokoknya pas hari Senin gue harus seger lagi dan ngga uring-uringan! Turned out, strategi ini membuat gue mengurangi minum kopi supaya bisa tidur lebih cepat di malam Senin.

Hari Senin pun terasa jadi lebih produktif karena tidurnya nyenyak dan cukup waktu. Supaya Senin malam-nya  tidur enak, kadang Senin-nya gue juga ngga minum kopi. Palingan gue minum kopi kalau lagi pengen aja atau udah memasuki hari lembur lagi, yaitu mulai Selasa.. Rabu.. Kamis.. Jum'at.. Bahahahah sebenernya intinya hari Minggu dan Senin no coffee no problem lah!

Cuma hampir 2 minggu belakangan gue selalu merasa low blood sugar. Ya jadi kecapekan aja gitu, karena waktu istirahat yang biasanya 2 hari kan cuma jadi 1 hari. Trus jadi kurang gaul juga, susah pacaran, dan jablay. Dan sepertinya, hari ini gue mulai tumbang. Mulai panas dalam dan meler-meler pilek. Sekarang ini juga super-capek setelah Senin-Kamis gue di Kuala Lumpur untuk conference dan Jum'at langsung pulang-pergi Bandung untuk workshop. Capeknya S.U.P.E.R dan tetap harus diskusi sama teman-teman mulai jam 3 sampai 9:30 tadi.

Jadi intinya, butuh waktu 4 minggu kerja begini sampai akhirnya badan gue mulai memberikan alert untuk istirahat dengan ngirimin penyakit panas dalam dan meler. Hmm.. 4 minggu ya.. Tahun 2012 gue bisa kerja 7 minggu berturut-turut (literally 49 hari non-stop) dan badan masih enak-enak aja.

Oh, mungkin juga karena cuaca akhir-akhir ini cukup funny dan gue ngga minum vitamin/buah.

I would suggest myself take a well-earned rest at the mountain, somewhere like a lot of people going on short escape on weekend. But malls are enough for me, PIM is my second home. So, looking forward for tomorrow, mall here I come!