Showing posts with label #MariLari. Show all posts
Showing posts with label #MariLari. Show all posts

Tuesday, February 17, 2015

#ANYOGoldRibbonRun - Support International Childhood Cancer Day!


International Childhood Cancer Day (February 15) is a global campaign to raise awareness about childhood cancer. The mission is to develop more equitable and better access to treatment and care for all children with cancer.

Retinoblastoma is the most common childhood cancer in Indonesia. It is one of our main concern for 2015 and ANYO Foundation is campaigning for 1,000 ophthalmoscope for 1,000 Puskesmas in Indonesia. When diagnosed early enough and treated with the appropriate protocols, the impact of retinoblastoma can be minimised - it's curable! However, only few children benefit for advanced medical care here.

Join us in ANYO Gold Ribbon Charity Run 2015 that will be held on March 15, 2015 in Jakarta, Indonesia. For more information about this charity 5K run, please visit this website [link].

Register and you'll save more young lives! See you!

#1mata
#kankeranak
#ANYOgoldribbonrun

www.yai-indonesia.org

♥, Me.

Thursday, December 18, 2014

Di antara ributnya #BajakJKT..

Halo!

Lama banget ngga nulis. Dua bulan belakangan ini lagi sibuk banget sama polemik di kantor, persiapan charity run #NusantaRun, dan ngebantu teman yang balik ke dapur rekaman.

However, gara-gara event #BajakJKT yang kontroversial weekend kemarin ini, siang ini saya gatel banget pengen curhat.

Saya sudah baca review ini [link] dan (berusaha) memahami comment-commentnya, baik yang pro dan yang kontra. Ributnya mirip dengan ribut di Twitter sepanjang Sabtu sore hingga hari Minggu, cuma karena di comment sebuah blog, pastinya bisa nulis lebih dari 140 karakter.

Sebagai orang yang suka banget sama olah raga lari dan mendaftar di #BajakJKT, sebagai orang yang dulunya sempat belajar Marketing Management, daaaan.... sebagai orang yang sedang bikin charity run event.. saya mengakui tidak tau harus berada di sisi yang mana.

Tapi yang jelas..

Saya akan tidak akan merespon komentar atau cacian yang tujukan kepada Runners di #BajakJKT. Kenapa? Simple.. Mereka yang memaki tidak tahu bahwa pada saat kita (Runners) mendaftar acara akan dilaksanakan di Lapangan Banteng, dengan rute seperti itu, dan mulai pukul 04:00 pm. Yang kami tahu hanya registration fee sebesar Rp 250.000,- (ketahuan deh umur gue) dan tanggal racenya. Memang dari awal sudah akan kepikiran bahwa #BajakJKT mungkin dilaksanakan malam hari karena tanggal 13 jatuh pada hari Sabtu. Lebih dari itu, kita mah siap-siap aja untuk mengulang hura-hura tahun lalu.

Race course dan jam acara baru keluar saat pengambilan race pack, yaitu 29 November sampai 3 Desember (ini setahu saya loh ya). Di sana sudah tertulis COT (cut off time) untuk beberapa waterstation yang ternyata bertujuan untuk traffic blocking. Eh tapi ya bok, pikirin aja, sekitar 13.000 (turned out "hanya" 9.000) pelari mana bisa semuanya memenuhi COT?

Akhirnya apa yang ditakuti beberapa dari kami, terjadi (walaupun "si kami" ini banyak ngga mengalami kerisuhan itu karena udah sampai finishline di bawah 1 jam 10 menit). Jalanan menjadi macet, banyak cacian dan suara klakson, serta runners literally running side-by-side with cars and other public transports. Nike benar-benar menterjemahkan #BajakJKT secara harfiah.

Menurut saya, tahun lalu Nike We Run pertama di Jakarta sukses digelar karena berhasil dengan tag #BajakJKT-nya. Padahal sepanjang rute (yang saat itu 25-30% di luar car free day Sudirman) Runners juga ngga serius-serius amat larinya. Banyak yang selfie, main pedang-pedangan, pokoknya main-main lah. Karakteristik Runners yang ikut tahun lalu juga ngga jauh berbeda dengan runners #BajakJKT yang kemarin.

Setelah sesukses itu, kenapa konsep event mesti diubah sekarang? Course and time announcement yang last minute seperti fait accompli buat kami. Pemaki tidak tau soal itu kan? So it brought my memory back to Jakarta Marathon 2013 di saat banyak orang yang complain ketinggalan pesawat atau telat ke Gereja karena jalanan banyak ditutup. Apa yang kurang? Komunikasi.

Sekali lagi: Komunikasi. Dari kita? Bukan. Dari panitia dong. Buktinya setelah komunikasi yang baik dengan mensosialisasikan buka-tutup jalanan, Jakarta Marathon 2014 sukses digelar dengan complaint dari pengguna jalan yang saaaaangat minim. Padahal acaranya berlangsung 7 jam dengan buka-tutup jalan sampai dengan 12 jam.

Tapi ngga begitu dengan #BajakJKT. Jika acara ini benar-benar bertujuan untuk marketing, wow, they've put their brand in danger. Bukan cuma brand Nike-nya, tapi We Run seriesnya juga (karena menurut saya ini melenceng dari esensi Nike We Run yang sesungguhnya).

Sialnya, 70% makian atas kemacetan akibat #BajakJKT tahun ini ditujukan pada para runners. Bukan panitianya!

Runners dicaci dengan ledekan: Kalau mau hidup sehat jangan ngerugiin orang lain dong! Padahal hidup sehat itu bukan 1 jam lari ikut Nike We Run. Hidup sehat itu lifestyle. Pemaki memang tidak tahu seluk-beluk acara ini. Akibat emosi juga, mereka akhirnya melontarkan makian-makian yang ngga difilter. Sementara Runnersnya sendiri melakukan pembelaan, bahwa: Setiap hari kalian mengambil hak kami untuk mendapatkan jalanan yang layak, ini cuma 2 jam aja protes sampai lebay banget!

Dua sisi yang bertikai tidak akan pernah bisa memahami satu sama lain. Masing-masing kehilangan kesabaran dan mementingkan curahan emosi daripada logika.

Tapi di sisi lain, si panitia duduk asik di depan komputer mereka dan mengirim email:

Kamu mengalahkan macet.
Melalui beratnya cuaca.
Menguasai waktu.
Selalu menguji keterbatasanmu.
Melakukan yang lebih.
You VS You. Kamu menang.

Really?

Kembalikan Adidas King of the Road!

Monday, September 22, 2014

Enjoying Bali: Running and racing during "that time of the month".

For every endometriosis-related blog entry, I decided to write it in Bahasa Indonesia in order to give readers most accurate information. Please click or follow this lable [link] for more posts like this.



Sekitar 2 bulan lalu saya lagi eneg sama kerjaan di kantor (tapi udah lupa pastinya karena apa), lalu iseng daftar 10K di Bali Marathon sekalian liburan. Padahal saya yakin banget badan dan stamina belum fully recovered dari operasi endometriosis bulan Mei lalu. Lama yes, recoverynya? Walaupun habis Lebaran kemarin saya sempat lari HM, saya ngga mau terlalu ngotot di Bali, karena kalau tiba-tiba sakit di tengah jalan, saat itu saya sedang jauh dari rumah di Jakarta. So, cukup slow pace sambil nikmatin lingkungan Bali.

Seminggu sebelum berangkat, saya sempet nyesel sih, kenapa ngga ambil half-marathon aja (21K). Toh juga COT (cut-off timenya) kan 7 jam, jadi it'd be okay jika mau selow-selow aja. Eh ngga taunya 2 hari sebelum berangkat, saya mens! What's worse, pas D-day-nya di tanggal 14 September itu saya lagi "banyak-banyaknya". Mungkin juga itu efek suntik Tapros sehari sebelumnya.

Wave 10K start pukul 6 WITA; 60 menit setelah wave full marathon dan 15 menit setelah wave wheelchair 5K. Terharu banget ngelihat semangatnya para peserta wheelchair! Karena saya ambil posisi paling belakang, di jarak 1.100 meter saya ketemu sama peserta-peserta wheelchair yang lagi berjalan balik ke garis finish. Di situ saya lihat cuma 2 beberapa petugas aja yang bantu dorong saat tanjakan. Jadilah kita beberapa peserta 10K ikutan balik arah buat bantuin dorongin wheelchair pas lagi tanjakan. Unforgettable moment! Saya terharu pas lihat tiba-tiba seorang peserta 10K bersujud untuk bersyukur dia diberkahi 2 kaki yang dapat berfungsi sehingga bisa lari dengan kakinya. Dia bilang, "Gue gemeter pas dorongin mereka kayak gue baru nemuin arti gue berlari itu apa."

Anyway, medannya rute 10K banyak melewati jalan kecil di dalam pedesaan. Saya sempet lihat matahari terbit dari belakang Pura di sekitar KM 3. Pengen motret pemandangannya, tapi saat itu masih ada penumpukan peserta di belakang saya yang bikin saya jadi takut menghalangi jalan mereka jika berhenti untuk motret (sekarang nyesel!). Karena ngga pengen ngos-ngosan dan pengen finish cantik, saya keep pace saya seperti jogging di angka 9:30 mulai KM 3 itu.

Di Bali, ngga ada tanjakan maut dan turunan curam kayak Bromo Marathon. Elevasinya juga masih dalam batas toleransi. Jadi singkat kata, tanjakannya ngga tinggi.. standar.. tapi ngga selesai-selesai :))

Di sepanjang rute 10K ada 3 toilet dan itu bukan toilet darurat atau toilet portable, tapi toilet umum seperti toilet di warung. And guess what, saya menyambangi 2 dari 3 toilet, keduanya untuk ganti pads (thank you, God, toiletnya di WARUNG!)! Yes, saya segitu "bocor"-nya di race day sampai harus ganti dua kali! Yang lucu, pas pertama kali saya masuk toilet (cukup lama di dalam), keluar dari situ rombongan 10K udah pada ilang! I was like, "Heh, segitu lamanya ya gue di dalem?" Ada ibu-ibu yang bilang, "Udah pada lari jauh, Mbak! Ayo dikejar!" Hahaha.. Mungkin dia ngeliat muka bingung saya.

Sisa kilometernya saya habiskan dengan menyapa anak-anak sekolah yang jadi "cheerleaders", foto "selfie" bareng sama mereka dan kenalan. Mereka paling suka high five pelari-pelarinya dan semangat banget setiap diajak selfie. Lucu banget iniiiii anak-anak Bali!!!

Akhirnya saya "finish cantik". Dengan lari a la Tuan Putri Mengejar Cintanya Yang Hilang, ternyata 90 menit bisa ngebakar sekitar 440 kalori - dan itu memungkinkan untuk finish dengan senyum, walaupun kondisi badan kurang fit :D

Berolah raga dalam kondisi mens emang ngga begitu asik. Kalau boleh memilih, saya mendingan ngga olah raga selama mens soalnya mendadak badan suka automatically goes into "weird" mode and stops working like usual. Supaya tetap fit, dokter saya menyarankan untuk minum vitamin dari seminggu sebelum mens dan ketika mens sebagai booster. Beliau menyarankan untuk meminum Sangobion satu kali sehari atau sesuai dengan kebutuhan.

Yang menjadi permasalahan buat saya justru hal lain: yaitu gesekan pads pada selangkangan! Habis finish 10K ini langsung berasa perih karena lecet-lecet loh, padahal sebelumnya sudah saya olesi Egyptian Magic Cream. Mungkin ada baiknya pakai tampon atau dengan cara lain supaya ngga nembus tetapi ngga menimbulkan lecet. Mungkin pakai non-wings tidak akan menyebabkan lecet ya?

Bagaimanapun juga, lari akhirnya jadi favoritnya Endometriosis Warriors. Kalau kita search hashtag #endometriosis di Instagram, akan keluar beberapa foto perempuan lagi olah raga lari. Efeknya apa, saya sendiri belum tau - tapi itu cukup membuktikan bahwa endometriosis yang sering bikin "ulah" seperti flare, bloating, dan cramps ini, bukan alasan untuk ngga bergerak.

Buat yang memang sudah suka running, jangan pernah lupa untuk core training. Pengalaman saya menyimpulkan bahwa core training akan berkontribusi lumayan bear saat race dalam kondisi mens begini. Di KM 7, lower abdomen saya mulai sakit, dan I believe, saya akan tumbang jika core saya lemah. So I have learned that your deep, interior muscles of the pelvis, back and lower abdomen ARE important to running (because those tiny muscles, the multifidy, the deep rotators, and other many little muscles of the pelvic floor are a big deal!). Untuk melatih lower abdomen saya, saya senang melakukan ab pulse up dan latihan TRX.

Yuk, jangan menyerah untuk jadi semakin sehat!

♥, Me.

Saturday, August 23, 2014

I get knocked down but i get up again you're never gonna keep me down!

Very-very gemmmeeeees juga ya rasanya udah banyak training dan boost nutrisi tapi stamina pasca operasi masih loyowati. Sulit banget pulih ke stamina yang sebelumnya sudah terbentuk (walau dulu juga belum sempurna). Akibatnya sekarang kalo lari ngga pernah bisa kenceng (karena cepat capek) dan ngga mau kenceng-kenceng juga (karena takut cedera).

Walaupun dosisnya udah digandain, core training juga impactnya cuma kerasa di capeknya dan sepertinya matras saya aja yang tersiksa sampai penyok.. ngga ada improvement di stamina lari.



Kata seorang teman, saya cuma parno dan ngga sabaran. Parno karena pasca operasi ini langsung cedera hip flexor setelah ngotot lari dengan pace 6-something. Ngga sabaran karena pengen cepet-cepet bisa lari kenceng supaya bisa pacer-an sama temen-temennya. Bener sih. And I think she's 99% right. Ditambah lagi exercisenya bolong terus sampai Idul Fitri kemarin. Sedih, no?

Jadi ya sudahlah, nikmatin aja prosesnya, asal ngga stop lari kan ya? :)) *iris bawang bombay*
Temen juga bilang, "Manfaatin aja kesempatan lari lelet untuk cuci mata dan stop for taking city view pictures.." Buset deh, kayak lari di New York aja. Di Pondok Indah mah sekarang banyak jambret pake motor :( Tapi alhamdulillah ngga menyurutkan niat olah raga. Masih lari, masih nge-gym, dan masih joget-joget sambil dengerin lagunya Chumbawamba - I Get Knocked Down tiap pagi :))

Anyway, ini salah satu core training wajib untuk runners: [YouTube link] di tambah squats pegang dumbbel. Keliatannya simple tapi sebenernya intens.. Jadi kalau matrasnya udah butut, nanti sampai berbekas kayak foto di atas :D

♥, Me.

Friday, August 1, 2014

13.1.

13.1 after a lazy fasting month.


Damn, everywhere hurts! :))

And I'm freakin' hungry!

*Someone please get me a 13.1 road ID's badge!*

♥, Me.

Wednesday, July 30, 2014

Pre-run meals: Banana Overnight Oats.

Salah satu kunci untuk menghindari side stitches pada saat lari adalah konsumsi pre-run meals kita. Saya biasa carbo load sampai jam 10 malam sebelum lari atau race, lalu dini hari sekitar satu-dua jam sebelum running/race, saya makan pisang (kadang pakai peanut butter). Pernah saya makan mie kira-kira 2 jam sebelum race, dan hasilnya sukses dapat side stitches di km pertama lalu saya cuma sanggup jalan cepet geol-geol sampai finish line.

Tapi bosen dong ya makan pisang mulu? Pisang memang bisa dibilang sahabat baiknya runners. Selain memiliki asupan yang dibutuhkan oleh runners, pisang itu lembut dan mudah dicerna, sehingga ngga membuat sistem pencernaan kita bekerja terlalu keras. Nah, kalau memang bosen dengan pisang, saatnya kita berkreasi dengan pisang.

Saya udah lama mendengar Overnight Oats, yaitu variasi makanan oatmeal dengan menggunakan minuman/cairan apa aja yang kita suka (misalnya susu atau yoghurt), lalu didiamkan semalaman. Untuk runners, Banana Overnight Oats bisa jadi alternatif makanan berenergi, yang tentunya tetep bebas side stitches!

Cara membuatnya mudah banget. Satu buah pisang Cavendish, dua sendok plain oatmeal, dan + 150 ml susu cair. Di malam hari, kita blender seluruh bahan, simpan ke wadah, dan masukkan ke kulkas untuk diminum pagi harinya (kira-kira 1.5 jam sebelum lari).


Secara rasa, saya lebih suka memakai raw almond milk. Teman saya lebih suka pakai soy milk. Bebas!

Oh ya, karena saya mengidap endometriosis, ada beberapa hal yang sebaiknya tidak saya konsumsi di pagi hari, yaitu gluten yang terdapat pada gula. Jadi saya sama sekali ngga mencampur gula atau pemanis buatan di sini. Selain itu, efek suntik Tapros membuat saya menjadi kekurangan kalsium, untuk itu akhir-akhir ini saya lebih suka mencampur dengan susu high calcium.

 

Rasanya gimana? Jujur, ngga enak-enak amat sih! :))
Tapi khasiatnya jempol banget! Perut ngga keroncongan saat running, tetapi bebas side stitches.

Karena rasanya yang ngga enak itu, kita bisa modifikasi sesuka hati. Misalnya dengan mencampur sedikit strawberry atau blueberry, madu, pumpkin bahkan jeruk lemon.

Selain sebagai pre-run meals, Banana Overnight Oats ini juga baik untuk sarapan. It's fulfilling, namun ngga menimbulkan rasa kantuk akibat kalium seperti kalau kita makan pisang pada umumnya.

Ada sedikit tips kalau mau "lebih seru" saat memakannya. Keluarkan Banana Overnight Oats dari kulkas dan diamkan 15 menit sampai berembun, lalu masukkan ke freezer selama 10-15 menit. Kata temen saya Chia, akan ada kerekes-kerekes es-nya yang bikin smoothies ini jadi seru! ;)

Ternyata, ada juga makanan yang ngga enak-enak amat, tapi nagih! :)

♥, Me.

Saturday, May 31, 2014

Mari Lari The Movie.

Hari ini adalah ketiga kalinya saya diundang ke acara pre-screening atau premier film Indonesia. Biasanya, saya ngga akan ngasih review atau kesan karena saya ngga pernah bisa "relate" dengan ide dari film-film Indonesia (dan memang tidak terkesan dengan filmnya), tapi kali ini saya bener-bener enjoy nikmatin filmnya dan bisa tersentuh secara emosional. So, saya harus kasih apreasi tertinggi: this is the best local movie!

Filmnya berjudul "Mari Lari". This movie is about us, it's about runners. Dialognya ringan (of course, penulisnya Ninit Yunita, duh!) dan kalau kita perhatiin banyak banget terselip "tips and tricks"-nya lari untuk pelari pemula. Cara yang smart banget untuk nyebarin virus lari.

Tokoh utamanya di sini adalah Rio, yang dari kecil udah keliatan kalau orangnya ngga pernah commit sama keputusan yang dia buat. Berkali-kali dialog di filmnya menyebutkan bahwa lari is about finish what you have started dan pertentangan batin antara "lanjut apa quit nih?". Tapi saya rasa filmnya ngga cuma sebatas itu.

Setiap runners, atau yang mengaku runners, atau yang baru niat dan pengen ikut-ikutan trend lari, wajib nonton filmnya. Setelah itu saya harap penonton merasakan bahwa "Rio is me" - because I believe there's a Rio in every runner's heart. Bagi yang belum menemukan "Rio"-nya, just keep running.. One day, you'll find a Rio in you :)

♥, Me.

Monday, March 31, 2014

Right, right, turn off the lights we're gonna lose our minds tonight what's the deal, yo? I love when it's all too much 5 a.m. turn the radio up where's the rock 'n roll?



Waktu saya mulai lari, ngga pernah kepikiran bakal pengen lari sampai 10 km. I ran for foods. Alasan lari itu karena pagi-pagi pengen makan di Lotus Court, ngincer nasi uduk, lontong sayur, atau apalah yang jaraknya paling jauh cuma 2.5 km. Suatu hari saya ketemu dengan Sammy yang jadi running buddy sampai sekarang. Mulai deh ikutan race meskipun just for fun, atau ganti suasana karena bosen lari-lari di sekitaran PI mulu.

Lalu awal tahun ini akhirnya saya daftar HM JakMar.

Lantas ngga jadi ngoyo sih gueee.. :)) Saya tetap pelari paling lelet, paling sering ngeluh, dan pastinya paling banyak alesan karena mau bolos latihan. Ikut race? Males banget deh :))

Tapi kalau ngomongin soal lari, saya lebih semangat daripada larinya sendiri. Beberapa catatan tentang lari yang penting banget dan semua pelari harus tau (terutama pelari pemula), akan saya tulis dalam blog entry ini (critiques are welcomed, dan thanks buat temen-temen PI Runners yang udah sharing).

1. Run your own pace.
Running buddy itu bisa memotivasi kita, tapi di sisi lain, bisa nimbulin peer pressure. Contoh, di komunitas saya sendiri. Beberapa kali saya lihat Si A ini selalu finish sambil ngap-ngapan (kami biasa 3-5 km sekali jalan). Puncaknya sekitar 3 minggu lalu, dia pingsan pas di KM 4. Heboh dong ya.. Untung deket sama rumah dia, jadi abis kita sadarin dia, kita cuma 50 meteran ngebopong dia.

Menurut gosip, perempuan ini selalu berusaha keras karena mau mengalahkan seseorang di klub sebelah (klub/komunitas biasanya berdasarkan rayon regional tempat tinggal) yang ternyata oh ternyata, mereka teman dekat tapi menggebet laki-laki yang sama! Karena kepo, kami lihatlah social media si "saingan" ini, ternyata jago banget larinya kayak copet - tiap lari pacenya 6'50" menurut Nike+. O pantes, Si A ini juga kalau lari selalu berusaha steady di pace 6'00", padahal heart beatnya dia selalu tinggi kalau lari cepet-cepet.

Yah, itu contohnya bukan peer pressure sih :)) Tapi intinya run your own pace. Understand your body, follow your body, dan kita akan pingsan free.

2. Endurance or speed?
Kecuali kita atlet sprint, endurance itu jauh lebih penting daripada speed. Apakah kita mau lari pake pace 7, 8, 9, 10, bahkan 15 sekali pun, ternyata yang lebih dibutuhkan adalah endurance, yaitu kemampuan kita untuk tetap berlari untuk waktu yang lama termasuk kemampuan badan recovery.

Okelah kita sign up pertama kali untuk 5K, selesaikan itu. 10K, selesaikan. 21.1K, selesaikan! Don't quit and keep pushing yourself. Ada yang bilang kalau lari itu sebenarnya pertengkaran antara pikiran kita untuk quit atau terus lari. Terus, apakah speed yang akan membuat kita tetap berlari? No, it is the endurance.

Jujur, endurance saya rendah. Hampir tiap kali lari, saya selalu memelan setelah KM 1, trus setempo lari kayak copet buat ngejar temen-temen, lalu teriak-teriak, "Woy, udah ngapah kita balik arah (pulang) aja?" That's why saya selalu terlihat happy kalau akhirnya saya bener-bener selesain 5 atau 10K :))

Bedaaa banget sama mereka-mereka yang mau menyelesaikan targetnya, atau mau lari sejauh-jauhnya. Adik saya aja tiap minggu dia 10K-an. Saya? Oh, udah 1.5K nih, waktunya balik arah. 'Mayan deh jadi 3K bolak-balik.

3. Mulai dari mana?
Mulai dari JALAN KAKI! Lah gimana mau lari kalau jalan kaki aja udah males? Saya sering banget denger temen-temen yang bilang, "Pengen kurus, tapi..." atau "Mau sih lari, tapi..." Menurut saya, ngga ada tapi-tapi-an kalau mau memulai. Kalau mulai dari niat, ya belum tentu dijalanin kan?

Mulai dari jalan kaki, trus lama-lama makin cepet langkahnya, sampai akhirnya "berlari". Ngga ada sih orang yang tiba-tiba langsung bisa lari. Semua pasti ada prosesnya. Makanya saya seneng banget, temen SMA yang pernah sekantor, Nilam, sekarang mau mulai lari, tapi equipment yang dia beli adalah pedometer bukan perlengkapan lari dan tetek bengeknya. Sekarang dia jadi tau jalan berapa langkah sehari. Rata-ratanya dia sehari 7,000 - 10,000 langkah.

4. Going to the next level.
Saat kita udah senengah raga lari, you can define your "next level". Your own goals, not other's. Runners' "next level" umumnya adalah gini:
  • Gue mau lari lebih jauh, half marathon next year!
  • Gue ngga akan ikut race 10K kalau 5K gue belum sub 30 (di bawah 30 menit). *biasanya orang-orang ini kalau sampai di finish line abis race, keringetnya segede-gede biji jagung, not gonna lie*
  • Gue mau naikin ke pace 7 (regardless berapa pun KM-nya).
  • Gue mau lari lebih rutin, seminggu 3x: 2 x 3K dan 1 x 5K.
  • Gue mau tingkatin endurance gue *ini saya!*
  • Udah ah, gini aja.
Apapun goalsnya, teh botol minumannya yang kita butuhkan adalah komitmen. Iya, sekomit A tadi untuk ngalahin temennya yang punya gebetan bersama itu! Meskipun saya kurang setuju dengan jalan pikirannya, saya harus akui kalau dia sangat berkomitmen untuk bisa steady lari dengan pace 6!

Saat kita pindah ke next level, mungkin akan timbul kebutuhan-kebutuhan baru, seperti:
  • Running shoes yang lebih tepat supaya kita larinya lebih nyaman.
  • Cross training, seperti sign up yoga, pilates, gym, atau renang.
  • Waktu extra untuk training.
  • Gadget untuk bantu monitoring heart rate atau GPS.
Yup, mungkin akan timbul biaya atau waktu extra, dan itu ngga sedikit/murah. Don't worry.. kami, runners, menyebutnya "komitmen", bukan "pemborosan". *goyang-goyang pohon duit* Saya ngomong gini bukannya karena akhirnya saya beli Garmin Forerunner 220 beberapa waktu lalu, tapi karena saya sudah pada tahap ini, saya jadi mengerti dan paham kenapa akhirnya runners butuh heart rate monitor dan GPS. Ada yang tidak bisa diberikan oleh aplikasi di handphone saat kita sudah pengen melangkah ke tahap selanjutnya.

5. Rest is a part of exercise!
Dari majalah Femina, saya baru tau kalau ternyata ada kecanduan olah raga. Mereka merasa "sakit" kalau ngga ke-gym. Well, saya juga sakit sih kalau ngga ke-gym, soalnya bill jalan terus :D

Ya intinya, dalam kondisi apapun mereka gelisah dan pengen olah raga mulu. Bahkan di acara My Strange Addiction, saya pernah lihat ada orang yang ngga bisa berhenti mengayuh sepeda. Laptopnya pun ditaro di atas sepeda training gitu. You crazy?

Rest is a part of exercise too. Makanya schedule training wajib diselingi dengan minimal 1x rest day. Saat rest day itu, kita boleh sama sekali ngga olah raga, atau meditasi aja.



Well, itulah 5 "ilmu" yang saya dapetin dari ngobrol-ngobrol soal lari. Seru yah kalau ngomongin lari? Nanti dikasi tag sendiri deh di blog ini ;)

Oh ya, sebelum operasi dan istirahat berminggu-minggu, berikut adalah catatan "pelarian" saya. Physically sudah siap di-"reset", meskipun mentally belooom :))

Longest run: 14.4K, October 27 2013.
Fastest pace: 6'40-an.
Favorite/comfortable pace: 8'00" - 9'00" (ini jogging pace kali ya? Tapi steady di pace segini enak banget, ngga ngoyo gitu).
Favorite distance: 3K :))
Reebok's age (retired): 480-an KM-old (tapi sepatu ini termasuk dipake main golf dan ke mall).
New Balance's age: 110-an KM-old.

♥, Me.

Friday, January 31, 2014

I got my ticket for the long way round two bottles of whiskey for the way and I sure would like some sweet company and I'm leaving tomorrow what you say when I'm gone when I'm gone you're gonna miss me when I'm gone.



Talking about happiness, I believe it could be considered vague to most people. Happiness, may have a definite dictionary meaning, but varies in every human's own definition. Regardless how individuals have their own definition, it mostly falls into satisfaction as basis. Like me, personally, I consider myself to be mostly happy with the daily struggle and tussle with life and know that working really hard for something is dreadful at the time, but incredibly satisfying at the end (it may make me sound dour, but I really enjoy the challenges of daily life). Thus, for me, happiness depends on one's level of satisfaction - is experienced once satisfaction is fulfilled.

That was my opinion.

"So, if a person is never satisfied, does mean that he will never be happy?", a friend asked me.

Umm....?

I sat there, and pondered and honestly had no idea. I knew how to define the feeling of happiness. Like when a kid hugs me and melts into me (usually my friends' children), or like when I get really sweaty after a workout. Physical touch and quality time are my top love languages, so it makes sense that I feel happy when I'm holding a child. But, I couldn't define what happiness means to me.

So, I realised that happiness, is not fixed at the beginning nor the end. It is, most of the time, in between. It between of every events, choices, or decision. Good moments in life causes happiness. As long as good moments exists, happiness will always tail.

Regardless our own definition of happiness, we have to agree that some people are always trying so damn hard to have it. Of course, it's all relative, but look at ourselves: we don't have to walk miles for water, your siblings and children didn't die of starvation, but we all have our struggles in one way or another. I, sometimes, think that happiness can be over-rated and people start worrying if they are not happy. If your are well, have friends, do something meaningful, why would you not consider yourself happy?

The moments of happiness come and go - sometimes like a visitor, it can't stay long and like a dear friend. We miss it when it's gone. So why questioning the state of being happy?

♥, Me.

Thursday, January 23, 2014

TNR (Thursday Night Run & Thursday Night Randomidity).

A QUICK POST!

I didn't have an urgency to buy any kind of GPS watch or sport watch.. until today.
I just had a 5K run, and I borrowed my friend's Nike+ Sport Watch this evening.. and thought that.....
IT IS SO EFF-ING COOOOOOOOOL!

Meh. Wants. It.

It's a great running watch with lots of cool features. It keeps track and stats such as distance, time, pace, calories, and so on. It can be connected to your Nike+ account too, then it will show you a map of your run!

Nike+ Sport Watch (I'm a fan today!) told me I did 5 km with 7'14" pace (is this thing more accurate than the phone apps?). I know I should take a rest from this running thing due to my high heart rate, but it was a nice quality workout. Now it's really time to start tapering down, both volume and intensity. I have to set my mind to keep its focus and not letting itself distracted now. A bit of rest now for the sake of the best fitness level on Rinjani Altitude Run on August! ;) Oh, I'm replacing running schedules with Pilates to straighten my core *and back to yoga after years away*. Feels so good! It felt good to stretch those poor muscles!

By the way....

I'm happy to report that things have been amazing. Really. Work's been fine so far. Sometimes I wonder why I put myself through certain things, before remembering that I'm working toward something. It'll all be worth it.

Meanwhile, I'm broke. :)) So, yeah, let's forget about that GPS watch thingy. Hit the hay now!

♥, Me.